The Spirit

The spirit will comes after your will. I see, I hear, I write, I celebrate all moment with words...

waiting is inspiring

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

I love sharing positive mind and feeling

my life teach me to believe my inner strength

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, April 6, 2020

Poetry The Pause of The earth





Pause of the Earth

Edrida Pulungan*

After noise becomes serenity
When the presence of invisible God’s creature
There are went away one by one because of it
There are said goodbye with warmth memo
Tears are escorting the agony
Tragedy of humanity

Break the silence apart with your raucous voice
Look at the interspace of soul which partly dusty
Is there still time to sweep
Till its pellucid send a message of longing

The pause
The earth seemed to stop on its axis
The distance between us is actually portraying the warmth
The hope is still there
Even though we are not able to hold hand together
Conveying the prayer

Yet there are some still survived
Because we also have hold back
In the name of humanity and love
Till we can greet the earth again after its pause
Greetings of harmony
Earth, be happy with us

There are still many ambitions of humans are delayed
In every mission and history of humankind on earth

In this world
We are not alone
Prayers are conveyed like the clatter of same tone from all over the world

Listen
The music from the balconies of world cities
The delayed flight
The school is off
The vacant road
The closed shops

The mother’s messages from the muddy alley corner of capital
The leaders’ warning through television
Report of isolation and death due to virus outbreak from news anchor like arithmetical count

Simultaneously, the world has a uniform news when its at rest and seeing human is confused, miserable,  impetuous and they also must stay at home

I, you, we and the earth
Pause for a moment
It needs the language of love that delivered to the guardian of earth
Because God is still with us

Depok, March 22, 2020
*The author of “Pesan Damai Bumi” (The Earth’s Message of Peace) that becomes one of collections at Peace Library Grand Halle Villatte, Paris; and an invited delegate of Paris Peace Forum 2019
[6:56 PM, 4/2/2020] Hanna Yogar: Mohon dicek, Mbak...
[4:23 AM, 4/3/2020] Edrida Pulungan:


Jeda bumi

Edrida Pulungan*

Selepas riuh menjadi hening
Saat hadirnya makhluk Tuhan yang tak terlihat mata
Ada yang pergi satu persatu karenanya
Ada yang pamit dengan pesan kebaikan
Air mata menyertai dalam kepedihan
Tragedi kemanusiaan

Pecahkan hening dengan suara paraumu
Melihat bilik jiwa yang sebagian berdebu
Masih adakah waktu menyapu
Hingga beningnya mengirimkan pesan rindu

Jeda
Bumi seperti berhenti pada porosnya
Jarak diantara kita justru menghadirkan kehangatan
Tanda harapan masih ada
Meski tak bisa bergenggaman tangan bersama menyampaikan doa

Namun masih ada yang bertahan
Karena kitapun harus menahan diri
Atas nama kemanusiaan dan cinta
Hingga bisa meyapa bumi kembali setelah jedanya
Salam harmoni
Bumi bahagialah bersama kami

Masih banyak cita-cita manusia yang tertunda
Pada setiap misinya dan sejarah hadirnya manusia dimuka bumi

Di dunia ini
Kita tak sendiri
Doa dihantarkan bagai deru denting nada yang sama dari penjuru dunia

Dengarlah
Alunan musik dari balkon-balkon kota dunia
Penerbangan yang tertunda
Sekolah yang diliburkan
Jalanan yang lengang
Toko-toko tutup
Pesan pesan ibu dari sudut gang becek di ibukota
Peringatan para pemimpin negara melalui TV
Laporan isolasi dan kematian  karena wabah virus dari pembaca berita bagai deret hitung

Serentak dunia punya berita yang seragam saat bumi sedang istirahat dan melihat manusia yang bingung, sedih, cemas, tergesa-gesa dan juga harus berdiam diri dirumah

Aku, kamu, kita dan bumi
Sejenak jeda
Perlu bahasa cinta yang dihantarkan pada sang penjaga bumi
Karena Tuhan masih bersama kita

Depok, 22 Maret, 2020 *Penulis Buku Pesan Damai Bumi yang karyanya menjadi koleksi Peace Library Grand Halle Villatte, Paris serta mendapat undangan sebagai Delegasi Paris Peace Forum 2019
Sudah bisa diterjemahkan kah

Jawa Timur punya Politisi Handal La Nyalla Mattalitti yang menjadi Ketua DPD RI priode 2019-2024


Gambar 1 : La Nyalla Mahmud Mattalitti politisi Jawa Timur yang terpilih jadi Ketua DPD RI dok. antara


Ir. La Nyalla Mahmud Mattalitti adalah sosok politisi kelahiran Jakarta, 10 Mei 1959; Ayahnya Mahmud Mattalitti merupakan dosen yang pernah dipercaya sebagai Pembantu Dekan Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Sedangkan kakeknya Haji Mattalitti adalah seorang saudagar Bugis-Makassar yang cukup disegani di Surabaya, Jawa Timur. tokoh indonesia  yang terpilih menjadi Senator asal Jawa Timur La Nyalla Mahmud Matalitti terpilih menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Timur, La Nyalla mendapatkan total 2.267.058 suara periode 2019-2024. La Nyalla juga terpilih setelah meraup sebanyak 47 suara dalam proses pemungutan suara mengalahkan senator asal Maluku Nono Sampono yang mendapatkan 40 suara, senator asal Kalimantan Timur Mahyudin yang memperoleh 28 suara, dan senator asal Bengkulu Sultan Bachtiar Najamuddin yang meraup 18 suara.

Mengikuti orang tuanya, La Nyalla menghabiskan sebagian besar hidupnya di Surabaya. Ia mengenyam pendidikan di SD Bhinneka Bhakti, Surabaya. Kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Surabaya, SMA Negeri 3 Surabaya, serta mengambil kuliah Teknik Sipil di Universitas Brawijaya. La Nyalla pernah menjabat sebagai ketua umum PSSI-KPSI periode 2012 hingga 2016. La Nyalla mendapat gelar  Datuk Radendo dari lembaga Adat Melayu di Bangka Barat 7 januari 2019

Wednesday, March 18, 2020



Tanah Parahyangan

Pada jejak langkahku yang tak bertepi
Tibalah kakiku di tanah parahyangan
Mataku merindu hamparan hijau pepadian
Juga senyum sang gadis sunda yang ramah dan santun
Serta anggunya gunung papandayan


Tanah Parahyangan
datanglah kemari kita lihat mentari terbit
Serta senja yang manis

Teh, kopi, padi di tanam para leluhur
tanah yang subur
sesaplah kopi yang hangat dan dengarkan kisah
bangsa Eropa yang datang memetik indahnya

Tanah Parahyangan
Tanah bersemayamnya dewa-dewa
Angin melambai begitu sejuk membelai rambut
Parahyangan selalu hadir memberi kenangan
Senyuman penuh bahagia masyarakat nan ramah
menyambutku dan menyambutmu di tanah Parahyangan


Garut. 14 maret 2020

Proses berkarya sang penulis bernama Edrida Pulungan



Perjalananku berkarya dalam dunia kepenulisan sangat berliku, proses untuk menuangkan ide, gagasan dan pengalamanku menjadi suatu karya tidaklah mudah dan  masih memiliki sedikit pengalaman. Namun aku  mencoba merawat dalam ingatanku saat aku menulis dan terus berkarya, misalnya saat pertama kali aku mulai menulis karena ada permintaan penulisan puisi oleh tim kampanye seorang tokoh dan mulailah aku kembali menulis puisi, dan puisiku berjudul " Narasi Pemimpin Muda Untuk Indonesia" kubcakan di depan media di sela-sela diskusi terkait pemilihan presidenatas  undangan dari tim Dino Patti Djalal yang akan mendaftar sebagai calon Presiden kala itu. Acaranya  dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Sosok yang mengapresiasi karya saya saat itu adalah sejarawan Indonesia yakni " Anhar Gong Gong. Beliau senang dengan puisi saya  terutama saat membaca pada bait kelima yakni kalimat " lalu apa yang kamu takutkan, bukankah kamu terlahir dari rahim keberanian"



Gambar 1 : Pertemuan yang kedua dengan Pak Anhar Gong Gong saat acara Kongres Kebudayaan doc. edrida Pulungan


Lalu saya juga bergabung dengan komunitas ruang sastrra atas rekomendasi bang Asrizal Nur yang tinggal di depok dan punya studio untuk penampilan puisi audionya, serta saat saya menghadiri acara festival sastra di Meulaboh,Aceh Barat dan bersua dengan bang Fikar W Eda, Bang Syaparuddin, bang Acep,Pak LK Ara dan penyair yang lainnya


Beberapa sastrawan yang pernah bertemu dengan saya, ada Pak Sapardi Djoko Damono yang saat itu hadir sebagai pembicara pada acara Kompasianival dan saya membawa buku " jejak Damai di Tanah Barus" kemudian kami berphoto bersama




Gambar 2 : Bertemu dengan Pak Sapardi Djoko Damono saat acara Kompasianival doc. edrida Pulungan

Saya sudah tahu komunitas penulis satu pena sejak ikut acara Bekraf dan ketemu dengan Pak Nasir
di stand  Bekraf namun saya belum bergabung. tetapi bang Fakhrunnas sudah bergabung dalam komunitas itu, hingga akhirnya sayabersua lagi dengan Pak Nasir di kedutaaan Prancis saat beliau sedang mempresentasikan karya-karya NH Dini yang semua karyanya saya koleksi.  Mungkin juga karena NH dini menikah dengan seorang diplomat berkebangsaan Prancis yang diapresiasi juga oleh Kedutaan Prancis dengan karya-karyanya yang ferminis dan judul -judul yang mengabadikan kota.

Pesan Damai Bumi


Pesan Damai Bumi





Bumi berpesan pada sungai, gunung,laut dan matahari
Tidak berseteru dalam hening pagi
Namun menyanyikan denting damai dalam orkestra lazuardi pagi
Semua makhluk riuh berebut, berlari dan bertasbih
di negeri zamrud khatulistiwa
Bertugas membawa pesan damai hari ini

Disini engkau kini berada
Pada satu zaman yang penuh deru debu
Dendam tertanam di ladang-ladang kita
Membaca kembali lembar-lembar sejarah kejayaan negeri dimasa lalu
Berbeda beda bersuku suku
Ada kisah perang dan perundingan dalam hitungan abad

Aku kembali berbicara pada dinding tembok yang membisu
Apakah kau dengar gema sang waktu
Haruskah aku berbisik dalam hitungan abad
Agar engkau mengerti aku

Aku kembali berbicara pada dinding tembok yang membisu
Haruskah aku berbisik dalam segala bahasa
Tentang kefanaan dan keabadian
Tentang persatuan dan perpecahan
Tentang keyakinan dan keraguan
Tentang waktu hening yang kita rayakan

Kita berbeda seperti hitam dan putih kulit kita
Aku adalah kerikil berpasir
Engkau batu pualam besar
Kita akan menjadi jembatan batu
Dilewati petani menuju dangau sawah

Laut lepas,angin semilir,nyiur melambai,ombak berbisik,ikan-ikan, 

burung-burung merpati,pohon-pohon ditaman adalah milik kita

Aku dan kamu adalah lagu
Ikatan keberanian untuk menyatu
Warisan peradaban
Generasi emas
Kita adalah pembawa pesan damai
Bumi semesta Ibu pertiwi

Puncak Ijen, 2018

Tuesday, March 17, 2020

Peace Journey, catatan perjalanan perdamaian perempuan pecinta puisi

Catatan sederhana dalam jeda kita di bulan yang hening dan penuh doa


Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan perlindunganNya
Keikhlasan membawa langkah kaki kemana-mana,
tidak bergantung pada apapun dan siapun kecuali padaNya
selalu kuatkan niat baik kita
Percaya akan rencana-rencana baikNya

Jangan berpikir sedih, kecewa,dendam
pada setiap orang yang mempersulit urusanmu,atau kecewa yang panjang

Pada setiap orang yang merendahkan impianmu itu hanya jalan ujian engkau setia dengan tujuanmu
Ingatkah jiwamu tidak diciptakan kerdil tapi besar seperti kehendakNya
Gurumu adalah semesta yang jadi saksi jejak langkahmu

Kuatkan hatimu, perbanyak doa dan usahamu, miliki banyak teman yang mendukungmu melewati batas-batas negerimu sendiri, kamu sudah buktikan betapa banyak senyuman, pelukan,penerimaan yang kamu dapatkan, karena engkau memegang kaidah emas
Engkaupun sudah mengumpulkan banyak semangat dan energi positif dalam hidupmu,
meskipun hidup tidak selamanya mudah

Kamu sudah membuka banyak pikiran hati dengan semangat,
pengalaman dan sedikit ilmu yang kamu miliki kepada orang lain
Selamat menerima keajaiban
dan terkabulnya semua doa serta dipertemukan dengan orang-orang baik
dan keberuntungan yang beruntun tidak pernah engkau bayangkan
Peluklah dirimu, yakinlah engkau yang tahu euforia kesyukuran itu ada dalam setiap zikirmu


Shiraz, Iran, 2019


#spiritualjourney
#thepowerofikhlas
#selfmotivation
#sincerity
#miracle
#personalitydevelopment

Monday, March 16, 2020

Berkunjung ke garut sebagai destinasi wisata alam serta daerah wisata potret toleransi bangsa



Saya mendapatkan undangan untuk menghadiri acara Perempuan Puisi Indonesia. Kota perdana yang didatangi adalah garut, yang sering disebut Paris Van Swiss. Saya awalnya akan menghadiri acara global woamn leader di Selangor Malaysia namun akhirnya ditunda karena visrus covid 19, namun tetap semangat bersua penyair perempuan yang hebat-hebat dan punya semangat. Saya di japri kak Kunni via whats up untuk transfer 350 ribu untuk kaos , penginapan dan lain-lain, sekalian ya pesan traveloka dan bayar 140 ribu tiket PP dan alhamdulillah semua beres, tinggal berkemas malamnya 


Saya dapatnya tiket pagi jam 9 lewat Stasiun Senen, naik Serayu. awalnya saya mengincar yang pergi malam, namun tiketnya sudah habis, padahal di sistem masih ada, namun saya eminikmati solo travel saya, Meskipun awalnya diragukan oleh teman karena HP saya ketinggalan, akan susah komunikasinya sesampa di satsiumn, karena akan di jemput teman saya. mbak Ratna, Namun Allah swt sellau punya kejutan, Hp saya yang jadul dan sudah pernah jatuh di parit " xiomi Biru" jadi penyelamat , meskipun kartunya tak ada, tapi bisa terhubung dengan jaringan Wi Fi, dan lebih menyenangkan lagi saya bersua dengan anak muda Papua yang akan ke Cilacap yang dengan senang hati meminjamkan chargernya, meskipun lama banget ngisinya, tapi bisalah memberitahukan posisi saya dimana, yakni gerbong tiga, semnetara Ummi Rissa ada di gerbong 6, sungguh perjalanan yang penuh kepasrahan. Saya baru tahu setelah ngobrol dengan Rendi Kendy yang mengatakan dia adalah paskibra di sekolah dan sekarang sekolah di akmil pelayaran dan merantau, dia bilang banyak temannya anak Papua masih belum berpikir luas, karena masih banyak yang suka mabuk-mabukan dan boros, disanalah Rendy menanamkan cita-citanya untuk masa depan



Gambar 1 : bersua Ummi Rissa penyair perempuan dari Bekasi setelah sampai di stasiun Garut kami disambut rinai hujan , ucapan selamat datang dari alam doc. edrida


Oh ya saat menuju Garut, saya menikmati perjalanan, aneka sawah yang menghijau dan menguning, ada juga terowogan yang agak panjang dan gelap yang kami lewati, kata salah satu penumpang itu kereta yang di bangun zaman Belanda, mulai dari membawa semua bberapa buku karya saya di tas jinjing

kebetulan ada dua anak perempuan di depan saya yang langsung duduk sambil meletakkan tasnya di atas sambil duduk dan salah satunya nyeletuk " wah bakal boring, gak ada buku buat di baca" lalu sahut temannya " iya yah, tapi ini kita bener ya di gerbong 3 A" dengan pede melihat saya seolah saya salah tempat duduk, rupanya mereka yang salah " maaf bu kami yang salah tempat duduk", sambil panik setiap ada penumpang yang masuk hehehe, tapi untunglah sempat ngobrol banyak


Berikut aneka photo yang saya abadikan 


Gambar 2 : selamat pagi Garut, bangun pagi dengan semanagat menikmati danau di depen penginapan dengan kratau yang berbunga satu-satu, penginapannya bernama " rumah bambu" yang dibangun oleh Pak Kuswandi doc. edrida



Gambar 3 : berfoto bersama puteri pertama kak Devie Matahari  yang kuliah di IPB jurusan Fisika, senang rasanya bersua gadis peranakan aceh dan medan ini doc. edrida



Gambar 3 : Bersama naik rakit menuju kampung Pulo sekitar 15 menit, sebagai desa adat yang menyimpan banyak warisan tak benda seperti rumah adat kampung pulo, makam syech Raden Arif Mahmud, juga candi cangkuang doc. bang Gober





Gambar 4 : selamat p datang di kampung Pulo, sebagai desa adat yang menyimpan banyak warisan tak benda seperti rumah adat kampung pulo, makam syech Raden Arif Mahmud, juga candi cangkuang doc. bang Gober



Gambar 5 : Berphoto bersama dengan para penyair perempuan serta p[emilik rumah dan mas Zaki pemandu museum dari dinas pariwisata dan budaya Jawa barta serta juru kunci makam Syech Arief Muhammad di teras depan rumah adat kampung Pulo, sebagai desa adat yang menyimpan banyak warisan tak benda seperti rumah adat kampung pulo, makam syech Raden Arif Mahmud, juga candi cangkuang doc. bang Gober




Gambar 5 : Berphoto bersama dengan para penyair perempuan di rumah adat kampung Pulo, sebagai desa adat yang menyimpan banyak warisan tak benda seperti rumah adat kampung pulo, makam syech Raden Arif Mahmud, juga candi cangkuang doc. bang Gober



Gambar 6 : lukisan dari syech Raden Arif Mahmud, juga candi cangkuang doc. bang Gober



 Gambar 7 : Berfoto di depan situs cangkuang doc. bang Gober yang berisi dokumen sejarah    situs cangkuang bersidri




Gambar 8 : Inilah penyair perempuan yang gemar belanja produk lokal garut, saya beli sepatu kulit buang bang abdu serta sarung tangan kulit warna coklat dan merah . ada kak Devie Matahari, Mbak Rini Intama, Santayana dan mbak Oky doc. Mbak Oky




Gambar 9 : belanja produk lokal garut,  bersama Bang Sutardji Calzoum Bahri, sama sama pakai wana hijau, topi bang tardji warna hijau sedangkan saya berkerudung hijau saya  dapat waktu di Iran, saya beli sepatu kulit buat bang abdu serta sarung tangan kulit coklat dan merah. doc. Mbak Oky




Gambar 4 : Berphoto sama Pak Kuswandi pemilik penginapan bernama " rumah bambu" yang dibangun oleh Pak Kuswandi karena kecintaanya terhadap adat sunda bahkan mengoleksi puisi sunda dari ajib rosidi doc. edrida



Gambar 5 : Berphoto  brsama para penyair perempuan, Kak Hening wicara, penulis, bunda Ummi Rissa dan Kak Devie Matahari sambil menikmati kopi di ruang kereta  Masinis dan kapten serasa menjadi noni noni zaman belanda doc. edrida



Gambar 6 : ngobrol inspiratif sambil bercanda bersama para penyair perempuan, kak Hening wicara, penulis, bunda Ummi Rissa dan Kak Devie Matahari sambil menikmati kopi di ruang kereta  Masinis dan kapten serasa menjadi noni noni zaman belanda doc. edrida







Gambar 7 : Photo bersama penulis bergaya swag bersama para penyair perempuan, kak Hening Wicara,  Mbak Ratna, Mbak Rini Intama, Ummi Rissa dan Kak Devie Matahari di depan rel kereta stasiun leles doc. edrida



Gambar 8 : Photo bersama penyair perempuan, di depan rel kereta stasiun leles kak Hening Wicara, yang sekarang tinggal di Pekan Baru dan bekerja di Pertamina doc. edrida



Gambar 9 : Photo bersama penyair perempuan, kak Hening Wicara  di depan rel kereta stasiun Leles saling mnegutakan, saling dukung untuk berkarya. doc. edrida