Monday, April 6, 2020

Poetry The Pause of The earth





Pause of the Earth

Edrida Pulungan*

After noise becomes serenity
When the presence of invisible God’s creature
There are went away one by one because of it
There are said goodbye with warmth memo
Tears are escorting the agony
Tragedy of humanity

Break the silence apart with your raucous voice
Look at the interspace of soul which partly dusty
Is there still time to sweep
Till its pellucid send a message of longing

The pause
The earth seemed to stop on its axis
The distance between us is actually portraying the warmth
The hope is still there
Even though we are not able to hold hand together
Conveying the prayer

Yet there are some still survived
Because we also have hold back
In the name of humanity and love
Till we can greet the earth again after its pause
Greetings of harmony
Earth, be happy with us

There are still many ambitions of humans are delayed
In every mission and history of humankind on earth

In this world
We are not alone
Prayers are conveyed like the clatter of same tone from all over the world

Listen
The music from the balconies of world cities
The delayed flight
The school is off
The vacant road
The closed shops

The mother’s messages from the muddy alley corner of capital
The leaders’ warning through television
Report of isolation and death due to virus outbreak from news anchor like arithmetical count

Simultaneously, the world has a uniform news when its at rest and seeing human is confused, miserable,  impetuous and they also must stay at home

I, you, we and the earth
Pause for a moment
It needs the language of love that delivered to the guardian of earth
Because God is still with us

Depok, March 22, 2020
*The author of “Pesan Damai Bumi” (The Earth’s Message of Peace) that becomes one of collections at Peace Library Grand Halle Villatte, Paris; and an invited delegate of Paris Peace Forum 2019
[6:56 PM, 4/2/2020] Hanna Yogar: Mohon dicek, Mbak...
[4:23 AM, 4/3/2020] Edrida Pulungan:


Jeda bumi

Edrida Pulungan*

Selepas riuh menjadi hening
Saat hadirnya makhluk Tuhan yang tak terlihat mata
Ada yang pergi satu persatu karenanya
Ada yang pamit dengan pesan kebaikan
Air mata menyertai dalam kepedihan
Tragedi kemanusiaan

Pecahkan hening dengan suara paraumu
Melihat bilik jiwa yang sebagian berdebu
Masih adakah waktu menyapu
Hingga beningnya mengirimkan pesan rindu

Jeda
Bumi seperti berhenti pada porosnya
Jarak diantara kita justru menghadirkan kehangatan
Tanda harapan masih ada
Meski tak bisa bergenggaman tangan bersama menyampaikan doa

Namun masih ada yang bertahan
Karena kitapun harus menahan diri
Atas nama kemanusiaan dan cinta
Hingga bisa meyapa bumi kembali setelah jedanya
Salam harmoni
Bumi bahagialah bersama kami

Masih banyak cita-cita manusia yang tertunda
Pada setiap misinya dan sejarah hadirnya manusia dimuka bumi

Di dunia ini
Kita tak sendiri
Doa dihantarkan bagai deru denting nada yang sama dari penjuru dunia

Dengarlah
Alunan musik dari balkon-balkon kota dunia
Penerbangan yang tertunda
Sekolah yang diliburkan
Jalanan yang lengang
Toko-toko tutup
Pesan pesan ibu dari sudut gang becek di ibukota
Peringatan para pemimpin negara melalui TV
Laporan isolasi dan kematian  karena wabah virus dari pembaca berita bagai deret hitung

Serentak dunia punya berita yang seragam saat bumi sedang istirahat dan melihat manusia yang bingung, sedih, cemas, tergesa-gesa dan juga harus berdiam diri dirumah

Aku, kamu, kita dan bumi
Sejenak jeda
Perlu bahasa cinta yang dihantarkan pada sang penjaga bumi
Karena Tuhan masih bersama kita

Depok, 22 Maret, 2020 *Penulis Buku Pesan Damai Bumi yang karyanya menjadi koleksi Peace Library Grand Halle Villatte, Paris serta mendapat undangan sebagai Delegasi Paris Peace Forum 2019
Sudah bisa diterjemahkan kah

0 comments:

Post a Comment