The Spirit

The spirit will comes after your will. I see, I hear, I write, I celebrate all moment with words...

waiting is inspiring

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

I love sharing positive mind and feeling

my life teach me to believe my inner strength

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, December 6, 2013

Inspirasi Optimisme Kehidupan dalam Seribu Kisah Titik Balik Manulife Indonesia



  
Masa depan setiap manusia memang tidak bisa diprediksi, namun sesungguhnya bisa direncanakan, baik dari segi pendidikan dan juga kesehatan, dua hal penting itu menjadi pesan yang sangat jelas dan dalam dari sekitar 1.118 kisah titik balik kehidupan masyarakat Indonesia yang merupakan kisah nyata dalam memperjuangkan kehidupan. Dan kisah ini berhasil diangkat oleh Perusahaan Manulife Indonesia sebagai bagian dari program edukasi masyarakat tentang kesadaran mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Kumpulan kisah titik balik tersebut bisa dijadikan pelajaran untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang tidak bisa kita prediksi, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, dan hanya dengan reaksi positif tercipta kebijaksanaan dan kearifan hidup yang sejatinya membawa kita pada kesadaran dan pemahaman tentang menyikapi kehidupan. Karena pengalaman pahit dalam kehidupan dapat menjadi pembelajaran berharga jika bisa mengambil hikmah didalamnya. Semua kisah akan tumbuh menjadi inspirasi kehidupan yang abadi  (long lasting) bagi setiap orang yang menyadarinya
Dan seorang yang optimis dalam permasalahan hidup tidak akan mengeluh dan meminta dikasihani namun bangkit dan yakin bahwa dia adalah orang yang kuat dan dipilih oleh Tuhan sebagai seorang yang istimewa dalam menjalani cobaan dan melaluinya dengan mensyukuri setiap kondisi apapun yang terjadi dalam kehidupannya.


Para narasumber  acara  Press Briefing Titik Balik (5/11/13) yakni Alexander Sriewijono (psikolog), Felicia Gunawan  (Head, Coorporate Communication Manulife Indonesia), Nelly Husnayati, (Vice President Director & Chief Agency, Employee Benefits & Sharia Officer,  PT Asuransi Manulife Indonesia) dan Desy ( moderator) 

Apresiasi terhadap kisah titik balik tersebut diabadikan dalam acara Press Briefing yang diadakan pada hari Kamis, 5 desember 2013 bertempat di Foot Atrium, Mall Kota Casablanca,  dan kampanye titik balik tersebut sudah berlangsung selama priode tiga bulan sejak september hingga November 2013, Hal itu diungkapkan oleh Nelly Husnayati, Vice President Director & Chief Agency, Employee Benefits & Sharia Officer, PT Asuransi Manulife Indonesia.
Menurutnya kisah-kisah titik balik akan terus hidup dan menjadi sumber inspirasi masyarakat Indonesia untuk membuat  perencanaan masa depan melalui tiga pilar perencanaan yakni proteksi, investasi dan dana pensiun,yang bisa didapatkan dari perusahaan Manulife yang berfokus pada custumer centric,dengan menawarkan produk dan jasa  melalui layanan jaringan kantor pemasaran yang sudah ada pada 24 kota yang tersebar di Indonesia, dengan 12.000 karyawan dan 1, 8 juta kontrak nasabah yang aktif.


 
Kisah titik Balik Naning Warningsih, perempuan yang berjuang melanjutkan sekolah SMU

Kisah tiitik balik terpilih dimulai dari kisah Naning Warningsih tentang perjuangannya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMU dengan bekerja menjadi tukang cari rumput untuk makan kerbau, meskipun Naning sering mendengar ungkapan untuk apa perempuan sekolah tinggi karena akhirnya ke dapur juga, namun Naning tetap berjuang sekolah dan mendapatkan ijazah paket C, hingga akhirnya kerja di perusahaan dan berkeluarga dan hidup berkecukupan dan akhirnya mendirikan usaha fashion lukis.


Kisah titik Balik Harbi Hanif  Burdha, seorang mahasiswa yang berjuang menyelesaikan kuliah Perguruan tinggi negeri (PTN) dengan kondisi orangtua yang tak mampu

Kisah kedua adalah Kisah Harbi Hanif Burdha masih menempuh studi  dimana kedua orangtuanya harus berjuang untuk mendapatkan dana pendidikan agar mereka semua kuliah, dan pada saat itu ayah Hanif sakit, Namun Hanif berhasil kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan yang bagus dan bisa membeli rumah.
Menurut Felicia Gunawan, Head Coorporate Communication Manulife Indonesia, kisah titik balik ketiganya benar-benar inspiratif karena ada sisi titik balik, bounce back dan semangat juang yang tinggi untuk keluar dari kesulitan hidup dan mereka mampu.


Kisah titik Balik Gracie Melia Christanto beserta anaknya yang menderita penyakit Rubella yang disebabkan virus

Kisah ketiga adalah kisah Gracie Melia Christanto, seorang Ibu muda yang anaknya menderita Congenital Rubella Syndrome (CRS), akhirnya Gracie bangkit dan fokus merawat anak serta resign dari pekerjaan dan juga membangun Rumah Rubella  sebagai komunitas untuk berbagi informasi dan pengetahuan tentang Rubella.
Menurut Alexander Sriewijono, psikolog mengatakan setiap apa yang terjadi dalam kehidupan manusia akan menghasilkan energi namun tergantung bagaimana reaksi kita melewati kesulitan hidup apakah menggunakan energi positif atau negatif menghadapinya.



Ketiga pemenang kisah inspiratif titik balik mendapat penghargaan dari Manulife Indonesia, Dari Kiri Alexander Sriewijono (psikolog), Nelly Husnayati, (Vice President Director & Chief Agency, Employee Benefits & Sharia Officer, PT Asuransi Manulife Indonesia), Gracie Melia Christanto, Harbi Hanif Burdha, Naning Warningsih, Felicia Gunawan  (Head, Coorporate Communication Manulife Indonesia

 Semua kisah titik balik merupakan inspirasi optimisme untuk melihat peluang dan berusaha bangkit sehingga mampu menghadapi tantangankehidupan. Karena Tuhan selalu ada untuk makhluknya yang berupaya. Beautiful life is always offering for survival people, and they are inspiring other by smiling, optimism and do action.

Tuesday, December 3, 2013

Diplomasi Keunggulan Bangsa : Potensi Diaspora Indonesia

Cerita-cerita keterpurukan bangsa begitu sering menghiasi media Indonesia, baik media cetak dan media elektronik, seolah tidak ada wajah Indonesia baru yang penuh inspirasi dan semangat, seolah negeri kita hanya berisi cerita-cerita keterpurukan dan kegagalan padahal banyak cerita suksesi anak bangsa diberbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, politik, science, teknologi yang seharusnya lebih banyak kita ceritakan dan tuliskan agar anak bangsa bangga pada negerinya sendiri dan dunia tahu Indonesia sedang melangkah pasti menuju kejayaannya. Contohnya adalah potensi diaspora Indonesia, Komunitas warga negara Indonesia diberbagai belahan dunia.

Diaspora merupakan suatu komponen yang bisa menjadi motor penggerak pembangunan bangsa melalui jaringan warga negara Indonesia yang menetap di luar negeri. Definisi diaspora sendiri dalam bahasa sederhana adalah perpindahan dan persebaran orang-orang Indonesia yang keluar dari wilayah nusantara dengan merantau . Semangat diaspora atau semangat merantau juga sangat tinggi dalam masyarakat Indonesia dan merupakan kearipan lokal untuk mencapai kesuksesan dalam pada suku-suku di Indonesia yang tersebar di berbagai daerah seperti suku Minang, Batak dan Bugis. Adapun ruang lingkup diapora mencakup berbagai hal yang sangat luas seperti setiap orang Indonesia yang berada di luar negeri, baik yang berdarah maupun yang berjiwa dan berbudaya Indonesia meskipun memiliki status hukum, bidang pekerjaan, latar-belakang etnis dan kesukuannya yang berbeda baik pribumi maupun non-pribumi.

Indonesia memang pernah berjaya di masa lalu, saat kerajaan Sriwijaya menaklukan banyak negeri tetangga dan kerajaan Majapahit menyatukan nusantara. Bahkan contoh jejak mahakarya nenek moyang dan pendahulu kita begitu luar biasa dan pernah menjadi bagian dari tujuh keajaiban dunia seperti membangun Candi Borobudur dengan kreasi, cipta, rasa dan karsa di zamannya, dan diakui dunia sebagai bagian peradaban yang tinggi. 

Di masa lalu Indonesia juga menginspirasi dunia untuk memperjuangkan kemerdekaannya melalui Konfrensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung pada tahun 1955 yang menghasilkan Dasasila Bandung dan memasukkan prinsip-prinsip piagam PBB. Sesungguhnya kejayaan negara Indonesia akan terulang kembali dengan momentum yang dimulai dari sekarang dengan langkah kecil yang konsisten dengan menyatukan potensi generasi unggul di masa depan, generasi yang cemerlang, generasi yang meyakini sebuah harapan akan kebanggaan akan negerinya.

Indonesia harus menata ulang masa depannya dengan memetakan sumber daya yang ada, diantaranya dengan menyadari suksesi anak bangsa yang tersebar di belahan dunia yang belum terekspos kepermukaan, yakni potensi diaspora Indonesia sebagai penghubung untuk membuka berbagai peluang untuk mendukung pembangunan di segala bidang di Indonesia yang perlu dioptimalkan pada zaman era globalisasi dan kemajuan informasi dan teknologi.

Untuk itu Indonesia juga sudah memiliki desk khusus dalam menangani diaspora untuk menjaring potensi warga negara Indonesia dengan membentuk Desk Diaspora Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Luar Negeri yang diketuai oleh M. Wahid Supriyadi yang optimis agar jaringan diaspora Indonesia akan berkembang pesat secara global.

Sebagai bahan perbandingan negara-negara lain yang sudah membangun Kementerian khusus diaspora antara lain negara India, Bangladesh, Srilanka dan juga Filipina dan China yang membangun Badan khusus Diaspora yang sudah membuat kebijakan-kebijakan efektif dan program yang memaksimalkan potensi diaspora.

Menurut Statistik Diaspora Indonesia menyebar di berbagai belahan dunia dengan urutan tertinggi penghasilan rata-rata masyarakat diaspora Indonesia. Sebagai contoh jaringan diaspora Indonesia di Amerika memiliki penghasilan berkisar 59.000 US Dollar atau setara Rp572 juta per tahun yang lebih tinggi dari masyarakat Amerika sendiri.. Selain memiliki potensi perekonomian, Diaspora Indonesia juga memiliki potensi pendidikan, pengusaha, dan pekerja yang sangat kaya akan ilmu dan keterampilan/skill serta tingkat pendidikan yang tinggi.

Berdasarkan sumber data Kementerian Luar negeri mengenai diaspora WNI maka diperoleh data WNI di Amerika Utara dan Tengah (128.654), Amerika Selatan (5.442), Afrika (4.610), Eropa Barat (55.855), Eropa Selatan (5.568), Eropa Timur (1.576), Asia Tenggara (2.841.957), Pasifik (70.941), Asia Selatan (4.069), Asia Timur (241. 257), dan Timur Tengah (867.519), sehingga total WNI yang tersebar di luar negeri berjumlah 4.485.431. Dengan demikian jaringan diaspora sudah tersebar diseluruh penjuru dunia dan berpotensi membangun dan mempromosikan negara asalnya ke luar negeri dari berbagai aspek untuk mendukung pembangunan nasional.

Selain itu Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dr. Dinno Patti Djalal sudah menggagas kongres Diaspora Indonesia di Los Angeles, California pada bulan Juli tahun 2012 yang lalu. Dimana kongres tersebut menjadi momentum sejarah karena merupakan pertemuan akbar pertama di dunia yang dilakukan secara khusus untuk diaspora Indonesia. Adapun hasil dari kongres tersebut adalah pembentukan Indonesian Diaspora Network (IDN) sebagai organisasi perkumpulan warga Indonesia atau keturunan Indonesia bahkan warga negara asing yang bersimpati dengan Indonesia. Dengan program kerja konkret di bidang pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi serta kebijakan visa dan pembentukan desk khusus diaspora Indonesia.

Lebih jauh lagi Diaspora Indonesia akan memperluas jaringan diaspora (IDN) Belanda, Taiwan, Malaysia, Singapura, Australia, Timur Tengah dan Qatar yang kemudian dikembangkan menjadi jaringan diaspora dalam bentuk konsultasi bisnis (IDBC), komunikasi profesional (IDBB) serta yayasan kemanusiaan (IDF) sehingga bisa bermanfaat untuk negara asal.

Sejatinya potensi diaspora merupakan bagian dari diplomasi keunggulan Indonesia ynag tersebar diseluruh dunia sebagai bagian dari semangat keunggulan yang menjadi kekuatan dan aset yang berpotensi, dan berkontribusi untuk pembangunan bangsa bangsa yang dinamis, kreatif, produktif sebagai kunci penting dari suksesi Indonesia menuju masa depan abad ke-21 dengan memperjuangkan kepentingan nasionalnya (national interest)

Diaspora juga memberikan peluang untuk memudahkan people-to-people contact yang akan berdampak pada peningkatan kerja sama perekonomian dan pengembangan kebudayaan bangsa Indonesia, karena sejatinya diaspora Indonesia merupakan duta-duta bangsa yang mempromosikan Indonesia dengan soft diplomacy

Meskipun masih banyak tantangan yang dihadapi seperti pemerataan komunitas diaspora Indonesia di seluruh dunia serta menjaga konsistensi silaturrahim gerakan diaspora Indonesia sebagai inisiatif nasionalisme yang harus ditindak lanjuti. Karena inisiatif mengembangkan dan memberdayakan diaspora Indonesia tidak bisa dilakukan oleh Pemerintah saja namun juga harus didukung oleh masyarakat melalui inisiatif, ide dan kreatifitas sehingga gerakan inisiatif ini merupakan keinginan dan milik bersama bangsa Indonesia untuk memadukan potensi yang ada.

Membentuk jaringan diaspora Indonesia seperti membangun simpul-simpul keunggulan suatu bangsa agar saling menguatkan sebagai bangsa yang besar. Langkah berikutnya KBRI untuk Amerika Serikat akan melaksanakan Kongres ke-2 diaspora Indonesia diadakan pada 18-20 Agustus 2013 di Jakarta Convention Centre dengan tema “Diaspora Pulang Kampung” ini diharapkan dapat menjadi penghubung di antara para diaspora dengan pihak pemerintah. Kongres ini merupakan tindak lanjut setelah suksesnya Kongres Diaspora Indonesia dengan tema “The power of Harmony in Diversity. Unleashed worldwide” yang digelar di Los Angeles pada 6-8 Juli 2012.

Semangat dan potensi diaspora Indonesia merupakan bagian penting dari diplomasi keunggulan Indonesia. Karena komunitas Indonesia di luar negeri memainkan peranan penting sebagai parameter untuk mengukur kinerja perwakilan. Dengan pembinaan yang tepat, diaspora Indonesia (WNI yang tinggal, bekerja dan studi di luar negeri, keturunan Indonesia, pasangan campuran atau WNA yang mencintai Indonesia) merupakan asset yang dapat diberdayakan untuk mendukung diplomasi Indonesia.

Diplomasi keunggulan Indonesia dapat dilihat dari dua sisi yakni diplomasi ekonomi dan budaya. Dalam konteks diplomasi ekonomi maka dimungkinkan bagi Indonesia untuk menerobos celah pasar mempromosikan produk-produk khas/unggulan Indonesia melalui jaringan diaspora dan juga mengkonsumsi produk Indonesia atau bahkan menjadi importir barang Indonesia dengan pangsa pasar utama adalah orang Indonesia atau rakyat mereka sendiri di negara mereka tinggal. Lebih jauh lagi juga bisa mempromosikan produk-produk halal yang masih susah di dapati di luar negeri. 

Sedangkan dalam diplomasi budaya, Indonesia bisa memperkenalkan ragam seni budaya seperti tarian dan nyanyian karena tak jarang banyak warga negara asing yang juga mencintai seni budaya berupa nyanyian dan tarian, contohnya ada warga negara Australia yang ternyata bisa menyanyikan lagu Batak. Sehingga industri kreatif di Indonesia bisa meningkat melalui undangan-undangan perhelatan kebudayaan di berbagai negara yang tentu juga meningkatkan kesejahteraan seniman-seniman Indonesia yang mementaskan tarian dan pertunjukan di negara-negara jaringan diaspora Indonesia,

Bukan itu saja keterampilan masyarakat Indonesia dalam kreasi seperti membuat batik juga bisa diajarkan di sekolah/ universitas jurusan seni karena banyak warga negara asing contohnya Amerika dan Eropa yang senang mempelajari pembuatan batik dimana inspirasinya merupakan warisan budaya Indonesia turun temurun yang menyukai keindahan dengan ragam dan corak yang memiliki makna dan filosofis yang tergambar dalam sehelai kain batik. Dan semua upaya tersebut merupakan bagian dari diplomasi keunggulan Indonesia melalui jaringan diaspora Indonesia.

Untuk itu diaspora Indonesia merupakan bagian dari diplomasi keunggulan dalam mengangkat potensi bangsa sehingga mengangkat marwah bangsa menjadi bangsa yang besar dan berjiwa besar bukan dalam angka populasi, pengangguran dan korupsi, TKI ilegal tetapi besar dalam mahakarya dan keunggulan-keunggulan bangsa yang akan terulang kembali dan tercatat dalam sejarah dunia kelak.

Pada Bulan Agustus ini, Kongres Diaspora II akan digelar kembali sebagai lanjutan kongres diaspora perdana yang telah sukses dilaksanakan oleh KBRI Washington DC di San Fransisco pada tahun lalu ini akan diadakan lagi di Jakarta pada tanggal 18 hingga 20 Agustus 2013 yang berlokasi di Jakarta Convention Center bertemakan “Pulang Kampung” untuk mempertemukan seluruh para perantau Indonesia yang tersebar di luar negeri dalam kebersamaan berbagi informasi dan pengalaman. Karena bagaimanapun Indonesia sebagai bangsa yang besar harus terhimpun, menyatu, berpadu dalam simpul keunggulan hingga anak cucu kita kelak bangga meneruskan perjuangan generasi pendahulunya yang telah menjejakkan prestasi diberbagai belahan dunia yang sukses pada berbagai bidang untuk diteruskan dan diabadikan menjadi komponen bangsa yang besar yang memiliki peradaban tinggi. Semoga. Maju terus Diaspora Indonesia.***

Penulis adalah Duta Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia 2006, Magister Hubungan Internasional Universitas Paramadina.


iArtikel dimuat pada: 23 Aug 2013, 00:11:00 WIB, di Harian Analisa, Medan

 http://www.analisadaily.com/news/40774/diplomasi-semangat-keunggulan-indonesia

Kupeluk Bunda didepan Kabbah



Kulirik jam dipergelangan tanganku, sekitar jam 12.00 wib. Kelas presentasi akan usai. Mahasiswaku mulai sibuk mengumpulkan hasil diskusi mereka. Aku menugasi mereka membuat ide bisnis untuk dipresentasikan minggu depan, semua aktif dan riuh gemuruh. Aku merasa senang sekali hari ini, melihat ide kreatif mereka, anak muda sekarang memang hebat-hebat ditambah lagi akses informasi dan teknologi membuat tugas mereka menjadi mudah. Sebagai dosen aku hanya mengarahkan mereka dan membuka mindset mereka agar think out of box, cukup dengan mengkomunikasikan dengan bahasa sederhana yang mudah mereka cerna.

Melihat antusiasme dan binar di wajah mereka terkadang membuatku melupakan waktu. Berjam- jam membuat modulasi role play presentasi bisnis, aku memang terkenal dosen muda yang workaholic. Sebenarnya aku baru pindah ke Jakarta. Posisiku sudah bagus di Medan, menjadi Manajer Lembaga Pendidikan Swasta Nasional di usia yang sangat muda 26 tahun, membawahi tiga ketua jurusan, dibantu 40 staf dengan 800 mahasiswa. Tapi suasana dan tantangan baru membuatku ingin pindah ke ibukota, meninggalkan Tanah Deli, Kota Medan, Kota aku menyelesaikan kuliah doblee degree ku, juga kota yang menjadi saksi kecintaanku pada multi kultur masyarakatnya. Kota yang kuharumkan namanya mewakili Indonesia sebagai duta pertukaran pemuda untuk Australia. Dan akhirnya aku pindah ke Jakarta dengan pekerjaan sebagai dosen tetap dengan status kontrak bersyarat. 

***

“Jadi bagaimana, kamu memilih S2 di Australia, apa Jakarta”? suara Ibu terdengar riuh dari gagang mobile phone ku..
 “Ibu tahulah pilihanku, ingin suasana baru Bu”?
 ”Cobalah seleksi wawancara yang di Jakarta dulu, tak usah jauh-jauh”.
 ”Iya Bu, saya paham tapi belum tahu apa beasiswanya ada”
 ”Rezekinya pasti ada toh kamu bekerja juga, penghasilanmu bisa membiayai kuliah S2, bukan, menurut ibu lebih baik disini saja, kecuali ada yang menemani?”
 Aku paham maksud ibu. 

Ini sudah kali kedua ibu merasa berat hati melepasku kuliah ke luar negeri, bukan untuk gengsi-gengsian, passion ku belajar dalam lingkungan multi culture sangat tinggi, rasanya lebih dinamis dan equality nya terasa tanpa menyampingkan untuk melanjutkan kuliah magister di dalam negeri. Tapi aku yakin ibu belum berani melepasku jauh. Apalagi aku adalah boru panggoaran*.

GA 254 menerbangkanku dengan gagah berani, burung besi itu mendarat dengan soft landing tiba di Bandara Soekarno Hatta. Aku disambut hangat mentari yang membuatku sedikit bersemangat. Aku menuju taksi express, jadwal wawancara 2 jam lagi, aku menatap gedung-gedung tinggi, setinggi cita-citaku. Tapi semakin lama seolah semu seperti bayangan-bayangan gedung itu. Sekilas aku baca print email undangan studi ke Aussie, akh percuma saja kalau ibu tak restu, bathinku. Siapa sosok yang paling mendukungku, ya bapak, pasti bapak mendukung seandainya beliau masih hidup. Sikap bapak yang pemberani, open minded menular padaku. Tapi apa daya, bagaimanapun aku sangat menyayangi ibu, aku yakin ridhonya begitu penting untuk perjalanan cita-citaku. Ibu andai engkau tahu semangat yang ada di hatiku.

Aku melihat beberapa email, mataku tertuju pada subject : ”congratulation”
 Aku baca sekali lagi. Baca sekali lagi. Alhamdulillah. Benarkah.
 “Syafira Angraini. selamat anda diterima sebagai mahasiswa fellowship S2 Hubungan Internasional, silahkan menghadiri kuliah umum yang akan dihadiri oleh Pak Jusuf Kalla”.

”What, saya diterima” ? batin saya diam dan speechless.
 Aku terbayang wajah Ibu, percaya tidak percaya, doa Ibu mustajab, jab, jab, jab.
  Ingin sekali memeluknya, setidaknya harapannya terwujud. 

**
 “Welcome to Jakarta” kota harapan para urban, kota yang diukur sebagai icon suksesi seseorang. Tapi mungkin Indonesian dreams yang sesungguhnya bagi masyarakat Indonesia adalah merasakan kebersamaan dengan keluarga, kota yang kelak menjadi saksi seberapa kuat aku untuk bertahan.

***

Menjalani skenario berikutnya, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesuatu yang jauh dari keinginan. Then everything goes almost worst but finally it can be controlled. Benarlah kata seorang filsuf, harus mensyukuri apapun yang didapatkan, agar nikmat bertambah, aku coba merenungkan kembali aku beruntung bisa menikmati kuliah S2, sementara banyak sosok diluar sana yang tidak mengenyam pendidikan tinggi seperti yang kurasakan.

Kuletakkan buku text book Governing Market, Robert Wade, sambil menyusun essay tugas kuliah dan tugas koreksian mahasiswaku. Tak terasa sudah di bulan April, aku akan ulang tahun tanggal 25 April ini. Rasanya ingin sekali memaknai bulan istimewa ini dengan membahagiakan ibu. Kulihat saldo tabunganku, tabungan yang kukumpulkan sedikit demi sedikit dari penghasilanku mengajar dan menulis buku. Semoga berkah. Bathinku dalam. Setidaknya gelisah di hati tidak berlarut-larut.

Aku mencoba membolak-balik iklan koran, mungkin ada paket umroh dengan harga promo. Dan yang paling penting jika tanggal keberangkatan pertengahan bulan April, ternyata tak satupun ada bulan keberangkatan yang pas. Standar biayanya sekitar U$ 16,000. Mungkin harus mencari info di internet. Tapi ada perasaan yakin perjalanan ke tanah suci ini akan terwujud.

Aku lihat jam dinding kelas sudah jam 16.00 wib, aku harus menuju shelter busway menuju blok M, semoga tidak macet meski harus berdiri dengan antrian panjang. Aku sudah terbiasa jalan cepat, dan berlari-lari menuju shelter. Kupandangi buku panduan umroh dan haji yang baru kubeli di toko buku kemarin. Ada lafaz doa labbaik allohumma labbaik. 

Kucapkan doa tersebut seolah-olah aku berada dalam pusaran Kabbah yang penuh dengan jamaah seluruh dunia melaksanakan rukun umroh saat mengelilingi Kabbah. Aku tersenyum simpul saat tranjakarta jurusan blok M berhenti, dengan sigap aku melompat. Wah jika begini perjalanan ke kampus penuh semangat. Begitulah aktifitasku sehari-hari. Mengajar dan Belajar. Semoga hijrahku ke Jakarta benar-benar jadi pembelajar sejati. 

HP ku berdering.. kring..kring. 

“Asssalamu alaikum wr wb. Kami dari Berkah Travel melayani perjalanan umroh dan haji , kami sudah kirimkan semua informasi yang ibu tanyakan ke email ibu, Jika ada lagi yang ibu tanyakan silahkan menghubungi kami. Terimakasih Bu”

“Terimakasih atas informasinya mbak, saya akan check email saya dan khabari segera”.

“Baik Bu, terimakasih atas kepercayaannya”.

Saya lihat email saya dan ada itenary perjalanan umroh, ternyata masih belum seperti yang saya harapkan, karena jadwalnya bulan Maret akhir meskipun biayanya lebih murah sedikit.

***

Apa khabar Syafira? Bisa bantu jadi MC acara ASEAN’s Youth. Segera menuju Senayan. 

Aku merasa senang sekali berkumpul dengan para delegasi pemuda. Nampak para delegasi riang gembira pada acara pembukaan, saya membuka acara dengan pantun yang disambut senyuman dan tepuk tangan peserta. Hingga acara selesai. Seorang alumni senior menghampiri, pucuk dicinta ulam tiba, ternyata dia punya travel umroh dan haji. Dan yang lebih membahagiakan lagi, ada tanggal yang pas untuk keberangkatan ke tanah suci. Jika Allah berkehendak, semua memang bisa terjadi. Alhamdulillah, saya langsung mempersiapkan berkas administrasi dan suntik meningitis, rasanya sakit sekali namun pupus demi impian menjadi tamu di rumah Allah dan merasakan senyum ibunda tercinta.

***

“Jadi Ibu kirimkan semua ya, KTP, kartu keluArga, melalui pos ekspress saja”.
 “Ada apa nak?, untuk keperluan apa?”
 ”kirim saja Bu, jika sudah pasti saya khabari, juga paspor ya Bu”.
 ”Ooh gitu ya” suara Ibu dengan nada bingung.
 “Doakan ya Bu, ada yang mau diurus ini, waktunya sudah semakin dekat”.
 “Semoga apapun urusanmu, lancar ya nak”, suara ibu takzim.

Ibu, sosok yang mendampingi selalu, sejak almarhum bapak meninggal, beliau berjuang sendiri memotivasi semua anaknya menjadi sarjana dan adik yang ketiga ikut jejaknya di bidang medis menjadi dokter. Ibu sosok yang bersahaja, seorang bidan yang senang membantu masyarakat tak mampu, sikap optimis, keikhlasan dan keceriannya selalu menjadi tempat berlabuh, bukan hanya pasiennya, juga bagi putera-puterinya.

“Ibu siapkan cuti seminggu lebih ya, segera ke Jakarta, ada undangan istimewa buat Ibu”?
 “Alhamdulillah, apa kamu segera wisuda S2 nak?”
 “Wah, masih kuliah 2 semester bu, ada undangan yang lebih khusus lagi”.
 “Tiket pesawat sudah saya pesan Medan-Jakarta, bawa pakaian Ibu secukupnya”.
 “Apa kita mau jalan-jalan, tabung saja duitnya nak, untuk persiapan wisudamu kelak”.
 “Ini spesial bu, rezeki Allah Maha Luas, ok bu, saya masuk kelas lagi, mau ngajar, Assalamu ‘alaikum wr wb?”.
 “Oh iya nak, wa’alaikum salam wr wb”, jawab ibu takzim dengan setengah kebingungan.

Hatku merona dan bahagia, semoga niat baikku tercapai dan tak ada halangan, hari ini ada khabar visa sudah keluar, Alhamdulillah.

GA 254 mendarat di Bandara Soekarno Hatta tepat 09.30 wib, aku memandangi wajah teduh ibu dengan bahagia, didampingi adik lelakiku. Ku berlari dan memeluk mereka bergantian, demi menuntut ilmu ke ibukota, kuharus berpisah dengan mereka.

“Kita mau kemana, sebenarnya?”.
 “Bu, nanti sore kita ikut manasik, ibu istirahat dulu sampai siang ya”.
 “Oh jadi kita mau ke Makkah?” kata ibu terharu menahan tangis”
 ”Ya bu, insya Allah, dengan izin Allah, semoga saya bersama ibu mendapat keberkahan. Bulan ini bulan kesyukuran saya, saat ibu berjuang melahirkan sosok manis dan aktifis ceriwis seperti saya”, tuturku sambil main mata ke adik lelaki.
 Dia nyengir sambil memelukku dengan ibu.

Tepat 07.00 waktu Jeddah, aku terjaga di bus jamaah yang membawa kami ke Jeddah, kupandangi masjid yang megah didepanku, subhanalloh, aku menangis dan memeluk ibu. Alhamdulillah, kami datang memenuhi panggilanMu ya Allah. Persiapan jamaah dan penginapan akan diatur oleh pihak travel NRA dan saya pun didampingi pembimbing rohani (mutoyyib). Semua terasa mudah dan dimudahkanNya. Amin

***

25 April 2010, tepat jam 06.00 wib di pagi hari, setelah bermalam di Masjidil Haram, hingga menunaikan sholat shubuh. Langkah kaki kami menuju khabbah untuk melaksanakan ibadah thawab, tepat 06.15 wib. Hari ulang tahunku yang istimewa kupeluk ibu di depan Kabbah, dan ibu mendampingiku dengan setia saat aku mencium Hajar Aswad, dan sholat di Raudah, makam Rasulullah. Tiada yang lebih bahagia dan kesyukuran yang terjadi dalam hidupku.

Kabbah, kupandangi bangunan yang anggun dengan kiswah hitam dan pintu, bangunan yang dulu sering kulihat saat kecil di kalender dan agenda kerja almarhum bapak. Semoga aku mendapat kesempatan untuk mencium hajar aswad juga, sebagai bagian dari sunnah rasul, berdoa di Multazam. Sambil membacakan labbaik allohumma labbik, ibu kuat menggenggam tanganku, pusaran jamaah semakin bertambah, semua berebut mencium Hajar Aswad, dan ada celah yang kosong, aku berusaha masuk, namun ibu menarik mukenaku, mungkin dia khawatir aku terhimpit dengan jamaah-jamaah Timur Tengah yang badannya besar-besar. Namun naluri seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk puterinya. Mugkin doanya yang membuat suatu keajaiban terjadi. Tiba-tiba tubuhku terseret kealam pusaran dan sekonyong-konyong sudah di depan Hajar Aswad, dengan sedikit takuT dan bahagia aku mencium hajar aswad dengan takzim, hingga dua kali dan inilah doa ibu. Kemudian Ibu menarik tanganku lagi. Kenangan yang tak akan kulupakan  seumur hidup. Ibu disampingku, mendampingiku di belahan bumi Allah, di rumah Allah sebagai tamu Allah di hari yang istimewa.

Kupandangi ibu, wajahnya yang teduh, bersih tersenyum haru, ada titik bening dikelopak matanya, ku buka resleting tas pinggang pelan, kupandangi photo almarhum Bapak. Kupejam mata menahan tangis sambil berdoa, semoga Allah menyayangiNya selalu dan tenang di dalam kubur. Ada rasa haru, sedih dan syukur bergabung menjadi satu. Hari itu amanah yang almarhum bapak sampaikan ketika saya masih kuliah sudah terwujud, amanah yang menjadi janji di hati saya terbayarkan membawa ibu ke Baitulloh dan membahagiakannya dengan cara yang sederhana.

Dan Apapun doa Ibu di depan Kabbah, kuaminkan, saya semakin sadar betapa mulianya seorang ibu, dan doanya yang akan menghantarkan anak-anaknya meraih cita dan cinta dan menghidupkan mimpi-mimpi yang pernah singgah. Ibu sungguh bahagialah dengan kebersamaan kita dan bahagialah pernah memiliki cinta sejati dari seorang sosok yang berjiwa besar seperti bapak yang memuliakan ibu di dunia dan kelak di akhirat. Insya Allah. Dan semoga kelak bisa kuikuti jejakmu mengikuti kata hatiku dan petunjuknya untuk menemukan cinta sejati.

Hari begitu cerah di kota Makkah, Baitullah, sesekali kupandangi burung-burung mungil seperti burung pipit yang beterbangan dengan ceria di langit biru. Melintasi Masjidil Harom nan megah dan anggun, burung-burung itu seolah menari-nari merayakan bahagianya aku di hari jadiku bersama orang yang menyangiku dan mencintaiku. Dialah ibuku, ibu yang mendampingiku mengambil keputusan-keputusan penting dalam hidupku. Ibu engkaulah mata air kehidupanku, dan duniapun tak akan pernah menggantikanmu.***

Bandara Soekarno Hatta, Merengkuh Rindu, Berlabuh Dalam Pelukan Ibu

Jakarta- Medan, GA 121. Jum’at 21 Desember 2012.