The Spirit

The spirit will comes after your will. I see, I hear, I write, I celebrate all moment with words...

waiting is inspiring

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

I love sharing positive mind and feeling

my life teach me to believe my inner strength

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, December 22, 2014

Dua Hati Tak Cukup Untuk Cinta



Dua Hati Tak Cukup Untuk Cinta
Oleh : Edrida Pulungan

Sepersekian detik arum menarik nafas. Ada rasa gelisah dan lelah dihatinya. Keraguannya selama ini  terjawab sudah. Jawaban-jawaban Pras di bbm chat mereka sudah sangat clear. Pras memang jarang menelepon, bbm chatnya juga sering lambat merespon. Arum seolah merasa tersudut karena harus menanyakan kemana arah hubungannya dengan Pras. Karena mereka sudah mulai empat bulan berkomunikasi intens. Pras  juga tak pernah menyampaikan maksutnya secara jelas kepada Arum kecuali soal pekerjaan dan bisnis-bisnis yang dijalaninya, bahkan cerita tentang organisasi atau komunitas sosialitanya. Bagi Arum sifat Pras yang terlalu workaholic membuat mereka tak pernah bisa mengambil waktu bicara serius tentang hubungan mereka. Pram dan Arum sebenarnya dua sosok yang  karakternya persis sama. Keduanya sama-sama aktif,  peduli keluarga, pekerja keras dan suka travelling. Namun persamaan diantara mereka belum mampu menautkan dua hati.
Arum yang sudah pernah menjadi seorang seorang sekretaris executive di perusahaan oil dan gas akhirnya mengundurkan diri. Perempuan yang sudah berkarir 10 tahun itu melepaskan posisinya agar bisa menjalani hidup lebih normal dan seimbang. Akhirnya ia memutuskan pulang kembali  ke kampong halamanya Joga untuk menemani ibu di masa tuanya juga membantu usaha batik ibunya, sambal merawat ayahnya yang mulai sepuh dan sakit diabetes.
Namun dibalik semua itu Arum mencoba membuka hati, memberi ruang dan membiarkan waktu melebur dalam kehidupannya yang baru. Arum memulai hidupnya di jogja dan melupakan Pras
**
“perjalanan kita ini kemana arahnya mas Pras, saya takut menjalani sesuatu yang tak ada tujuannya”
“ arah pembicaraan kita kemana ya”?
Pras seolah cuek dan tak mengerti.
Arum menahan rasa emosi dan resahnya. Bagaimanapun butuh keberanian bertanya pada seorang laki-laki dewasa, namun lebih baik baginya untuk memenemukan titik terang daripada dalam gelap dan perasaan yang pengap. Arum bertanya karena selama ini komunikasi mereka lancar saja dan sering diskusi dan berbagi banyak hal. Bagi Arum itu awal yang bagus, dan Pras pernah mengawali perkenalan merak dengan kalimat sakral” bismillah”. Bagi Arum itu sudah jadi fondasi yang baik untuk melangkah.Baginya bismillah itu adalah melibatkan Allah dalam hubungan mereka. Meskipun tidak selamanya demikian. Allah lah yang membolak-balik hati masnusia. Arum mencoba bersabar dan mengerti itu.
Tapi entah mengapa dia tak bisa melupakan Pras. Sosok yang dikenalkan oleh Ratih sahabatnya sebelum Ratih meninggalkan Jogja untuk mengikuti suaminya selepas menikah dan bermukim di Austria. Tapi lucunya Ratih sempat mengingatkan bahwa Pras sosok yang sangat pemilih, jadi jangan juga terlalu berharap. Tawaran yang sangat lucu dari Ratih. Akhirnya Arum mau memberikan nomer hp nya kepada Pras melalui Ratih. Dan komunikasi meraka mulai terjalin.
Namun ucapan Pras yang tanpa kepastian membuat Arum merasa terhempas. Pras mengatakan hanya tiga kata saja dengan datar. Kita jalani aja, kita butuh pendekatan lagi”. Gubraaak. Seperti itukah. Arum selama ini sudah sangat terbuka. Bagi Arum itu sama saja dengan memperhalus bahasa penolakan Pras saja.
Lelaki itu ternyata pemberi harapan palsu.  Arum merasa semua sudah  usai dan tidak mau lagi berputar-putar dalam hubungan tanpa kejelasan. Apalagi Pras tidak memberikan satu perkataanpun yang mengarah pada komitmen menuju pernikahan.Waktu yang sangat sia-sia dengan orang yang tidak tepat.
Arum diam dalam kelam. Mencoba tersenyum. Menikmati rasa kecewa terkadang bisa mengembalikan kelembutan hatinya. Ada pelajaran baru yang dia dapatkan. Menerima sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa berupaya memperjuangkannya kadang lebih melegakan.  Arum tak berniat membuka ruang hati dan berkomunikasi klagi dnegan Pras. Cukup sudah. Karena baginya cinta adalah kado istimewa dari Tuhan atas dua hati dan tidak bisa dipaksa dan direkayasa untuk mendapatkannya. Jika ngotot juga hasilnya tak akan baik. Bagai mengayuh dayung seorang diri.
Arum menarik nafas, dia merenung lebih baik menemukan sepotong hati yang utuh baginya. Seperti suara lagu yang dia dengar dari Club Eighties “ Dari Hati”
Semua memang harus dari hati dan Arum harus sadar Pras tak punya hati untuknya apalagi cinta. Mungkin bagi Arum menemukan cinta sejati sama dengan menemukan frekwensi yang tepat di radio diantara banyak gelombang. Maka suara yang jelas kana terdengar enak dan indah di telinga, jika frekwensinya tak tepat suara akan samar dan nyaris tak terdengar. Begitu juga dengan cinta harus dalam dua frekwensi hati yang sama. Butuh waktu. “Time will heals the wound.”
::
Arum mencoba realistis. Toh bagi Arum tak ada lagi yang dia kejar. Tabungannya selama bekerja cukup untuk kehidupannya beberapa tahun kedepan untuk mulai bekeja lagi dengan aktifitas baru di Jogja. Begitu juga dengan adik-adiknya yang sudah mulai mandiri dan bekerja setelah lulus kuliah. Meskipun dulu Arum benar-benar berjuang dan bekerja keras untuk membantu adik-adiknya sekolah. HInga akhirnya semua mereka sarjana dan tiga diantara liam adiknya sudah menikah.
Kini saatnya bagi arum menikmati waktunya memikirkan dirinya sendiri. Keluarga besar banyak yang nmenginginkan dia menikah. Namun arum menahan diri  untuk tetap sabar emnaggapi omongan yang kadang begitu pedas di telinga.
Bagi arum pertanyaan itu tidak terlalu dia pusingkan. Karena pernikahan baginya bukan lomba lari yang harus lebih dulu mencapai garis finish. Kadang cinta datang terlambat dan kadang dating begitu cepat. Hanya butuh hati yang siap ketika cinta datang dan pergi. Arum menemukan hatinya kembali dalam jeda. Mengobati sisa luka. Inilah waktu yang pas bagi Arum untuk move away memang Usianya sudah kepala tiga tak ada kamus pacar-pacaran lagi baginya yang ada hanya menunggu lelaki yang berkomitmen jadi calon suaminya.
**
Arum membersihkan layar percakapannya dengan Pras di BB nya semalam. Daripada terkenang sesuatu yang hilang. Toh Pras juga tak menelponnya. Sama saja dengan menganggap Arum baginya hanya teman biasa. Bagi Arum semua seperti cerita komedi bukan cerita tragedi lagi. Bukankah dulu dia juga tak mengenal lelaki itu, tiba-tiba saja laki-laki yang dia suka suara tawanya itu “ngontrak” di pikirannya tanpa bayar. Arum tersenyum dan membuka jendela kamarnya. Masih pagi. Suara ayam terdengar nyaring, Dia mau membantu si mbok menyiapkan sarapan nasi kuning buat Bapaknya.
Bangun lebih pagi tanpa ada yang dikejar dan diburu, bahkan taka da macet adalah satu kesyukuran baginya yang tinggal agak di pinggir kota jogaja.
Jogja begitu indah di kala pagi. Sisa kabut belum hilang bersanding dengan pemandangan gunung yang indah didepan mata. Simponi alam yang terlupa dan dekat dengan manusia.
Arum membidik beberapa shot dari Nikon 3100 mengabadikan musisi jalanan yang sedang menghibur orang-orangsarapan sedang menikmati lontong sayur dan pecel lele diangkringan. Sejenak dia merasa bahagia bisa menikmati suasana kota. Dulu saat menjadi sekretaris bos, kerjanya sampai malam. Mulai dari breakfast meeting sampai dinner meeting dan report-report yang harus dikerjakan tuntas dengan deadline yang begitu banyak karena perusahaannya mulai besar dan ekspansi keluar negeri. Dan sekarang waktu begitu lambat di kotanya, Jogjakarta.
**
Arum masih semangat menjepret beberap shoot. Tiba-tiba dia menyenggol seorang Ibu dengan keranjang belanjaannya di pasar umbul Harjo. Langsung Arum jongkok dan memungut sayur-sayuran dan buah yang berserakan dari keranjangnya.
“ Taka apa nak, saya yang buru-buru”
“ maaf Ibu, ibu mau kemana”?
“ rumah saya dekat cuma 50 meter ke utara”
“ oh saya bantu aja ya bu, gimana”
“ wah ndak apa toh, saya memang  buru-buru harus masak, anak saya baru lulus sekolah keluar, Jadi buat acara syukuran biasa”
“oh senang sekali bu, mari saya bantu”
Arum menninjing sayuran ditangannya dan memegang tangan ibu tua yang baruu ditabraknya meneybrang jalan yang mulai rame.
“ makasih, makasih nak, kita sudah dekat lewat gang kecil ini”
Arum sampai juga di rumah kayu berlantai dua yang asri dengan halaman yang agak luas. Ada dipan sederhana dan tanaman buah jambu air di depannya. sesekali juga  terdengar kicauan burung dari pojok ruangan samping. Rumah yang teduh dan nyaman. Seorang sosok laki-laki terburu-buru keluar dan mengambil keranjang dari tangan ibunya. Perawakannya tinggi, rambutnya agak pirang, sorot matanya teduh namun agak tajam memandangi Arum.
“nak ini anak saya, kenalkan namanya Setyo”
“ arum ms”
“ Oh Arum”
“ saya Setyo”
“Tadi nak Arum jumpa di pasar dan ibu terburu-buru, belanjaan ibu jatuh, nak arum mau ngantarin kemari Yo”
“ Oh gitu Bu. Makasih Arum, silahkan masuk, maaf masih bernatakan ya. saya lagi berkemas-kemas nih, dan gak ahli klu masukin baju, semua mau dimasukin. tetap aja ada yang kurang, hehehe”
“ nanti aja ibu yang beresin yo. ayo kamu ngobrol aja sama Arum, ibu ke dapur dulu ya buatin teh”
“ duh bu gak usah repot-repot. Saya bantu ibu aja masak” jawab arum singkat
“ emang bisa masak” kata Setyo setengah tak percaya dengan alisnya yang hampir bertaut melihat tangan arum yang baru disalaminya halus mulus dan tidak kasar seperti tangan ibunya yang berhati lembut itu.
“ ya bisa sedikit walaupun tak sekelas chef bintang lima lah mas” kata arum bergurau memancing tawa diantara mereka.
“ nak arum ini lucu juga ya, mari sama Ibu”
“ Saya boleh ikutan Bu” Tanya setyo
“Setyo malah goreng tahu kemarin hangus, rum?
“hehhehe, jangan buka rahasia dong Bu”
Sebentar Setyo ganti baju dulu ya bu”
**
Arum merasa senang pengalaman baru hari ini. Rupanya Setyo anak satu-satunya dan Ayahnya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Setyolah yang selama ini menjaga ibunya. Kuliah dan sambil bekerja di sebuah LSM lokal. Namun siapa sangka sosok lelaki sederhana dan humoris itu akan mengambil kuliah doktoralnya di Austria, negeri Eropa yang sangat indah dengan kulaitas pendidikan terbaik untuk ilmu humaniora. Negara yang pernah dia kunjungi untuk presentasi bisnis lima tahun lalu. Namun kekaguman Arum pada Setyo ditepisnya karena ingatan pada Pras, ketika dia berharap cinta hadir malah semua berakhir.
**
Arum menikmati the poci hangat sambal menikmati kicauan burung dui serambi depan rumah pras.
“ sedang mikirin apa rum”
“ gak ada kok mas”
“ oh ya, terimakasih ya sudah berkunjung ke rumah saya yang sederhana dan bantuin ibu dari pasar dan masak disini”
“makasih juga diundang tak langsung buat syukuranmu ya mas, semoga kuliahnya lancar disana, dan bisa kembali ke jogja”
“makasih Rum, aku sebenarnya tak pernah tega ninggalin ibu sendiri, ingin kubawa serta denganku ke Austria. Tapi pasti ibu tak betah karena sudah terbiasa dengan Jogja dan dia selalu ingin di Jogja dan berada di rumah ini, rumah peninggalan Bapak dan disini  banyak sekali kenangan indah baginya dan bagi saya rum”
“ jadi gimana, kalau ibu tak ikut, tetap studi ke Austria jua”
“ saya sudah pernah menunda beasiswa studi ke amerika dulu. Karena Ibu pernah sakit jelang keberangkatan saya. Akhirnya saya batalkan. Tapi sekarang Ibu dengan ikhlas bilang’ setyo kamu harus capai cita-citamu sekolah yang tinggi dan berbudi pekerti, kelak jadi cerdas dan jadi pemimpin seperti kakekmu”
“ oh ya”?
“ ya Rum, Kakekku dulu penasihat gubernur Rum, Bapak sangat bangga, karena kakek ahli budaya yang dulu sekolah hingga Belanda”
“ wah, nice story”
“ hahaha, kisah-kisah klasik yang terulang di masa depan rum”
“kamu sendiri bagaimana”
“ saya hanya perempuan yang lagi belajar bersyukur dan menikmati hidup mas Setyo”
“ waaah,  begitukah. Saya baru dengar kata-kata seperti ini. Misi hidup yang yang luar biasa dna menyenangkan”
“Tapi kelihatannya tidak seperti itu deh”
“ masa”
“ mungkin kamu orang yang terbiasa aktif dan  sedang  jeda mencari life wisdom”
“ dari mana menyimpulkan seperti itu?”
“ hanya feeling aja”
“ feeling yang strong apa weak”
“Terserah deh, hehehehe”
“ hmm, mungkin bisa seperti itu Yo,  kita  bisa terbang jauh, berkelana hanya untuk kembali mencari jalan pulang dan merasakan kebersamaan dengan orang yang kita cintai itu menyenangkan”
“ waah sepertinya saya harus belajar banyak sama kamu Rum, kata-katamu filosofis banget ya, padahal kita baru bertemu hitungan jam, kena banget”
“ kapan lagi ada waktu, saya seminggu lagi berangkat.
saya antar kamu pulang ya”
“ terimakasih mas, pamit dulu sama ibu”











Edrida Pulungan
Jalan Danau Limboto No.121 Bendungan Hilir
Jakarta Pusat 10210
Hp : 081361780641

 



Program Indonesia–Ubud Writers
& Readers Festival
Jl. Raya Sanggingan Ubud – Indus Restaurant. PO Box 181, Ubud Bali 80571.
Telp : 0361-7808932

 
 





Cinta Tak Pernah Salah Membuka Pintunya



Cinta Tak Pernah Salah Membuka Pintunya
Oleh : Edrida Pulungan*

Masih jam 6 sore. Rembang petang di kota kembang. Rania malas beranjak pulang. Semua teman kantornya sudah pulang beberapa jam yang lalu. Namun Rania memandangi kertas yang menumpuk. Masih banyak pekerjaan kantor dan tugas kampus yang menumpuk. Tapi entah mengapa semua kertas notulen rapat yang harus diedit lagi diabaikannya. Bahkan text book untuk bahan bacaan diskusi dikampus juga diabaikannya. Seharian dia hanya menatap fb dan melihat photo teman-temannya yang sudah menikah. Semua sudah memiliki anak-anak yang lucu-lucu. Tidak begitu dengan Rania. Meski dia cukup puas dengan karirnay sebagai sekretaris eksekutif perusahaan minyak, juga gelar  akademisinya sebagai master  komunikasi yang sebentar lagi akan dirampungkannya. Rania  menurunkan kacamatanya ke bawah demi melihat inbox fb. Ada seseorang teman yang menyapanya, singkat.  Dia melihat nama itu. Rangga. Ada 5 mutul pertemanan mereka.

“ hi”
“Hai juga
“Sibuk ya”?
“Tidak mas”
“Lagi apa/”
“Lagi beres-beres mau kirim buku J
“Judulnya apa ya?”
“melamarmu di kota serambi’
“mau dong”
“hehehehe”
“ pekerjaannya apa sih?’
“ penulis buku”
“oh ya, asyik dong”
“ ya asyik, kalau banyak yang baca karya kita”
“kamu tinggal di mana’?
“ saya di bandung”
“ kalau mas dimana’?
“ saya di aceh”
“oh ya, pekerjaanya apa?’
“ saya tukang buka tutup pintu bank”
“ oh ya, lucu juga,hehhehehe”
“ oh ya nanti kita ngobrol lagi ya mas, ini nomer saya 0812xxxxx, “
Entah mengapa rania merasa senang bertemu seseorang meski di dunia maya. Apalagi Rangga sosok yang komunikatif dan lucu. Setidaknya bisa menjadi teman ngobrol baginya.  Sekian lama rani lebih asyik dengan dunianya, dunia karir, kampus dan menulis. Tapi rania tidak pernah mau mengatakan dia bekerja sebagai sekretaris, Dia ingin menemukan sosok yang tulus dan menerimanya. Dan tidak merasa minder dengan posisinya. Karena entah berapa kali hunbungan Rania kandas hanya karena salah paham. Rania merasa sedih jika pendidikan dan jabatan dibawa-bawa dalam hubungan, padahal manusia itu sudah ada rezeki dan bakatnya masing-masing.  Kadang rania juga takut menikah. Karena mendengar temannya yang banyak merasakan KDRT dan beberapa cerai karena suaminya tidak memberikan kebebasan berkarya dan otoriter.
Rania menarik nafas dalam. Oksigen seolah masuk kekepalanya. Perasaan dan pikirannya sedikit ringan.
Mungkin karena oksigen mengalir dengan sempurna dalam tubuhnya yang lelah dan pikirannya yang mulai bercabang. Akhirnya Rania membaca beberapa notulen rapat dna mencoba konsentrasi.

**
Rania membereskan tasnya, ponselnya bordering
“ halo, ini aku yang tadi ngobrol di fb
“ Ya, aku ingat Mas rangga Bukan”
“ ya, diriku, rangga, fans mu”

**
“ maaaf menggangum aku menelponmu, Aku sebenarnya senang mengenalmu, dan ingin mengenalmu lebih jauh, pasti bahagia ya bersamamu”
Gubrak. Perasaan rania melayang di langit biru. Lapisan ketujuh.
Rania merasa lelaki ini begitu berani dan terkesan blak-blakan.
Pikir Rania berani benar lelaki yang baru dikenalnya ini merayunya. Pakai rumus gombal tembak langsung lagi.
Tapi rania merasa senang saja. Mungkin karena selama ini dia selalu di kelilingi sosok yang kurang ekspresif.  Rata-rata temannya adalah anak IT yang selalu lebih akrab dengan PC computer daripada ngobrol dengannya, meskipun kebanyakan mereka laki-laki single.

Rangga memulai pembicaraan dengan suaranya yang berwibawa namun sedikit manja.
 ra, aku ini duda, istriku meninggal ketika anakku berusia 2 tahun, istriku kecelakaan, tapi aku masih muda, 32 tahun”
“ oh ya.. mas maaf ya, turut berduka cita”
“kamu sudah pernah menikahkah?”
“ oh belum”
“hmm, kamu rugi dong kenal denganku”
“ ya tidak, namanya juga berteman”
“ tapi aku niatnya serius”
“serius untuk ?”
“ menikah”
“ saya yakin masa depan saya dan Denia masih panjang,dia juga butuh kasih sayang ibu”
“ ya pastiny mas”
Rania merasa seperti diwawancarai namun senang dengan semua pertanyaan Rangga, Mungkin inilah yang dicarinya selama ini, hubungan yang serius dari laki-laki dewasa dan bertanggung jawab.

“ kamu maukah hubungan serius”
“ sejujurnya iya, tapi butuh waktu menjalaninya”
“ oh ya mas, saya harus masuk lagi ada rapat”
“ ya, nanti saya telpon lagi ya, selamat bekerja”
“makasih mas”
Ada perasaan bahagia yang menelusup di hati perempuan berusia 27 tahun itu. Entah mengapa semuanya begitu cepat. Mungkinkah lelaki ini yang dikirimkan Tuhan untuk mengisi hari-harinya dan menghabiskan sisa usianya?
**
Rania memperhatikan sosok itu di akun FB nya. Rangga sosok yang kelihatan dewasa dan penyayang. Banyak sekali photo-photonya dan puteri perempuannya. Rasanya terenyuh melihat photo-photo itu, sekilas Denia terlihat baby perempuan yang lucu dan periang. Gemas rania melihatnya, namun semua tentu butuh waktubagi rania. Tak pernah terpikir olehnya bersua seorang duda dengan anak satu. Namun apakah cinta sedang membuka pintu untuknya?
Beranikah Rania masuk kedalamnya?

Tepat jam 09.00 wib. Rania baru sampai di rumah. Ponselnya dari tadi sudah bordering-dering. Dia tahu itu pasti rangga yang selalu ingin mencari tahu khabarnya.

Rania  merasa ponselnya bergetar dan dilihatnya satu nama dilayar ponselnya “ Rangga. Nama itu kini mengisi harinya. Rania dan rangga sebenarnay nama mereka serasi. Rania tersenyum bahagia.
Sayang, kamu sudah makan belum?katanya
“ belum mas, nanti aja, lagi banyak yang mau dikerjain”
“ ya, makan dulu ya,nanti sakit, jangan diporsir kerjanya dek”
“ya mas”
“udah ya,mas lanjut kerja dulu”
“ makasih mas, sudah nelpon”
Inilah yang dia suka dari Rangga, mau nelpon disela-sela kesibukannya. Dia senang sekali sosok  lelaki yang perhatian dan hangat. Namun kadang ada ketakutan yang hadir pada diri rRnia. Benarkah dia bersua dengan lelaki serius. Tak banyak orang yang kenalan di dunia maya dan menikah. Namun inilah perjalanan kisah cintanya. Justru  dia menemukan sosok itu diujung jarinya.

**
“ kamu kenapa usia segini belum nikah”?
“belum ketemu jodohnya mas”
“Jangan-jangan gak suka laki-laki”
“aih mas enak aja”
“hehhehehe, hanya becanda, janagn marah”
“kamu aja kali yang terlalu pilih-pilih, tiada yang sempurna lho”
“ gitu ya mas?’
“ ya iyalah, saya aja sudah punya anak”
“ selamat kalau gitu, hehhehe”
“ aku yakin kita nanti pasti jadi kok”
“ oh ya,”
“ ya iyalah”
“ memang kamu gak mau sama aku”
“ hmmm, nanti bertepuk sebelah tangan”
“ gak kok, aku juga suka sama kamu kok, kamu cukup cantik juga”
“ berartui nilai C dong, cukup”
“heheehehehe, gak juga”
“ kamu suka nyanyi gak mas?”
“suka, sesekali”
“ coba menyanyi untukku”
“ kamu dulu lah”
“mau nyanyi apa”?
“ Akhirnya kumenemukanmu”
“ wah suka lagu itu ya?’
“ lumayan”
“ kapan-kapan ya”
“ sekarang aja, kalau gitu aku yang nyanyi untuk kamu ya Ra”
“akhirnya kumenemukanmu, saat hati ini masih meragu… sesungguhnya engkaulah harapan segala gundah hatiku”
Rania mendengar rangga menyanyi hingga selesai. Ada sesuatu yang hangat menelusup dihatinya, entah apa namamnya.
“ ra, jika kelak kita menikah, kamu mau kan menjadi ibu yang baik buat Denia, kasihan dia gak merasakan kasih saying ibu”
“ Iya mas, dan bantu aku jadi ibu yang baik baginya”
“ ya, dan satu lagi…”
“ apa itu mas?’
“ mau gak , kalau nanti kita tunggu Denia besar dulu, mungkin dua tahun baru kamu punya naak”
Gubrak, perasaan rania campur aduk, disatu sisi dia merasa Rangga hanya menginginkannya menjadi ibu bagi rania, padahal rania juga ingin punya anak dari rangga.Sungguh cerita yang menyedihkan bagi rania, akla dia merasa menemukan belahan hatinya namun diatas pra syarat untuk menemukan satu cinta.
“ begotu ya mas, baiklah saya piker dulu ya,makasih”
“ rania kamujangan marah ya, apapun yang kamu mau untuk keseriusan hubungan kita, aku pasti setuju, aku akan menjemputmu secepatnya”
“ ya mas, makasih ya, nanti kita ngobrol lagi”
Rania langsung menghambur ke ketempat tidurnya. Menutup matanya denganbantal dan menangis. Rasanya baru kemarin dia mengenal sosok Rangga, namun sudah mampu mencuri hatinya. Tapi seolah semua sirna bagi Rania. Karena dalam pikiran rania seolah Rangga hanya menginginkannya jadi seorang Ibu seolah “ pengasuh babynya”.

Bagi Rania kelak ini pernikahannya yang pertama, dia membayangkan sesuatu yang indah, namun inilah kenyataan kehidupan yang dialaminya saat dia pertama kali mengenal cinta.

Ranie mencoba menarik nafas dalam. Ponselnya bordering berulang-ulang, Telpon dari  rangga. Entah bagaimana perasaan Rangga sekarang, apakah dia tak tahu betapa sakit seorang perempuan yang menginginkan kehidupan rumah tangga yang indah tanpa adanya batasan punya anak tidak harus menunda. Bukankah Rangga tahu rania adalah sosok yang penyayang dan tak akan menelantarkan anaknya. Bagi rania cinta Rangga tak tulus. Baru seminggu rasa itu hadir,rasa yang berbunga-bunga akhirnya hari ini musnah semua. Rania mengusap airmatanya.

Sayup-sayup azan magrib terdegar memecahkan lamunannya. Bergegas rania mengambil wudhu. Hatinya sedikit tenang. Dia mengambil photo darimeja riasnya “ photo Rangga dan denia “ yang tidur pulas berdua, kemarin diambil dari FB dan dicetaknya.
Dia mencium photo itu, seraya berkata “ Rangga aku mencintaimu dan juga anakmu, meski itu bukan untukku, dan kelak engkau akan tahu cinta tak pernah salah membukakan pintunya, dan akau sudah membuka pintu hatiku untukmu, kumohon jagalah aku dan rawat cintamu untukku”
Hari ituperasaan rania mulai damai, Dia membaca sms yang masuk
“ Rania, maukah menikah denganku, maafkan aku atas harapanku kemarin, namun aku tahu engkaulah perempuan istimewa yang dikirimkan Tuhan untukku”
Rania tersenyum da nada butiran hangat mengalir diwajahnya.  Airmata haru dan bahagia”

*Edrida Pulungan penulis 15 buku, pendiri Lentera Pustaka Indonesia, Penulis buku “Diatas Langit Eropa Melamarmu dan sepucuk Rindu Untuk Aisyah yang Setia”