The Spirit

The spirit will comes after your will. I see, I hear, I write, I celebrate all moment with words...

waiting is inspiring

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

I love sharing positive mind and feeling

my life teach me to believe my inner strength

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sunday, October 20, 2013

Keluarga Coddy dan Tiga Koin Keberuntungan



Di sebuah dusun bernama Palala di Negara Eropa, dusun kecil diatas bukit, dusun itu dusun yang dipenuhi  tanaman jagung, sejauh mata memandang , sungai Tinolle membelah dusun tersebut dengan dusun Aria. Disanalah tinggal suami istri  bernama Pak coddy dan bu pindy dengan tiga puterinya yang cantik dan satu puteranya, puteri-puteri mereka bernama Withney, Sherly dan Sherlomita, dan seorang anak perempuannya bernama Jack. Anak-anak perempuannya cantik dan rupawan,serta senang membantu orangtuanya memasak dan berkebun jagung, biasanya setipa akhir peka jagung tersebut di jual di pasar. Jika sudah terkumpul uangnya biasanya keluarga Pak Coddy bertamasya ke Queen Park, taman kota yang dipenuhi rakyat untuk piknik dan melihat indahnya kolam Sanjor, konon jika membuang uang logam disini, maka semua keinginan akan terpenuhi. Namun Pak Coddy dan keluaga tidak bisa pergi karena sakit, namun tidak jelas penyakit apa yang menimpanya, sehingga Bu Pindy memanggil tabib untuk memeriksakan sakit suaminya.
Pak tabib segera datang di minggu pagi dengan tergopoh-gopoh demi mendengar suara Bu Pindy di telpon dengan setengah panik.

“ Pak tabib, tolong suami saya, badannya panas dan matanya merah, dia terjatuh tadi pagi, tolong Pak Tabb segera kemari’
“ Bu Pindy, sabar ya , saya segera datanbg ke rumah ibu”
Pak Tabib dating dengan peralatan medisnya dan ramuan-ramuan dari tumbuh-tumbuhan penurun panas.
“ sakit apa suami saya Pak Tabib?”
“ oh sakit demam biasa bu, tapi beliau harus minum ramuan yang saya buat, namun ada satu ramuan ajaib, saya tidak punya tumbuhan itu, biasanya tumbuh di dusun Aria, namanya jagung emas yang langka, batangnya kuning hingga buah jagungnya. Semoga Bu Pindy bisa mendapatkannya”
“ oh begitukah Pak Tabib, semoga saya akan suruh anak saya Jack mencarinya ke dusun Aria”
“ Baiklah Bu Pindy , saya mohon diri”
Pak Tabib pergi, dan Bu Pindy melihat suaminya tertidur, da Nampak kasihan dan menyelimuti suaminya dengan kain rajut yang baru dibuatnya, agar badan suaminya hangat dan berketingat.
Tiba-tiba suaminya membuka mata
“ ada apa dengan aku, Pindy?”
‘ kamu sakit pak, sabarlah semoga lekas sembuh saya sudah panggilkan tabib, dan minumlah ramuan ini “
“ oh terimakasih Pindy, badanku lemas sekali, mungkin aku kecapekan berkebun”
“ ya sabarlah suamiku tercinta, esok Jack akan ke dusun Aria Mencari tambhan obat buatmu”
“ apa dusun Aria ???, disana banyak tukang sihir, jangan kau biarkan putra kita berangkat kesana?”
“ jadi siapa yang mengambil ramuan kesana Pak, toh anakmu Jack lelalki yang pemeberani dan kuat, berdoalah dia selamat mencari obat”
“ oh Pindy, aku lebih setuju jika yang berangkat adalah tiga puteri kita, suruhlah mereka menyamar menjadi penyanyi do pasar, agar tiada yang curiga, karena dusun Aria sangat senang mendengar nyanyian-nyanyian”
“ oh aku malah khawatir , jika tiga puteri kita kesana, jika lebih baik, biarlah jacksaja, diakan laki-laki”
“ bukankah suara anakmu Jack seperti suara petir, bikin telinga sakit,.hehehehehhe”
“hush—jangan begitu sama Puteramu sendiri, bukannya suaramu juga tak bagus-bagus amat, Cuma kamu pandai menggombal aku, akhirnya aku menikahimu,untung kamu baik hati dan penyayang”
“” hahahahahah….hehehehe.. Pindy kamu beruntung menikah denganku, aku petani jagung yang sukses dan kita punya anak-anak yang tampan dan cantik-cantik seperti kamu< rambutnya pirang seperti rambut jagung, hehhehe, dan kulitnya hitam manis seperti aku suamimu yang manis ini”
“ aduuuh suamiku, sakitmu sakit apa, kok jadi kambuh seperti  Pak Honji, yang percaya dirinya selangit dan suka pamer itu”
“ wah , janga kau samakan aku dengannnya” aku lebih tampan, jadi gimana siapa anak kita yang berangkat ke dusun Aria?”
“ ya sudah aku setuju denganmu, barlah whitney dan adik0adiknya berangkat, dan Jack menjaga dan mengawasi panen jagung kita esok, istirahtlah dan minum obat ini”
Pak Coddy minum obat dan matanya akhirnya terpejam dan istirahat. Begitulah suasana keluarga Pak Condy dan Bu Pindy yang hangat, meraka saling menyayangi . dan senang musyawarah  jika ada permasalahan keluarga.
**

Jelang pagi Whitney memasak sup jagung kesukaan Ayahnya, Pak Coddy makan dengan lahap, minum obat  karena suhu badannya tak kunjung turun, diapun terlelap tidur setelah minum obat.
Bu Coddy memanggl ketiga anaknya dan menyampaikan anjuran tabib dan harapan suaminya agar mereka bertiga ke dusun Aria.
“ anak-anakku Whitney, Sherly dan Sherlomita, ayahmu sakit demam dan salah satu ramuannya adalah jagung emas yang tumbuh di desa aria yang berbahaya, ayah yakin kalian bisa sampai kesana dengan menyamar sebagai penyanyi , namun hati-hati karena neger itu negeri tukang sihir, bagaimana puteri-puteriku , bersediakah kalian berangkat kesana?
“ benarkah demkian Bu?” respon Whitney sebagai puterinya yang tertua
“ iya puteriku, bagaimana menurutmu”
“ baik Bu, semoga Ayah lekas sembuh saya bersedia, bagaimana dengan Sherly dan Sherlomita”?
“ saya bersedia kak” jawab Serly
“ saya juga bersedia berangkat” jawab Sherlomita.
Pu Bindy terharu dan memeluk ketiga puterinya, dalam hati dia berdoa agar puterinya segera menemukan obat dan kembali pulang dan berkumpul di rumah mereka yang mungil dan berlantai dua di kaki bukit dusun Palala.
**

Jelang senja, Jack dan Bu Pindy mengantarkan ketiga puterinya  di perbatasan Sungai Sinjor, mereka pergi dengan berkuda dan sampailah mereka di tepi sumhai, karena ketiga puterinya akan menggunakan perahu kayu menuju dusun Aria.
“ hati-hati kakak kakakku, semoga jagung emasnya dapat, dan kembali pulang ke rumah kita dengan selamat”
“ iya Jack, jaga Ibu dan Bapak kita, dan uruslah kebun kita, semoga panen kita berhasil dan jagung bisa dijual ke pasar kota”
“ Ya Kak Whitney, saya akan jaga ibu”
“ hati-hati di jalan puteriku”   suara Bu Pindy  terdengar lirih
Mereka melambaikan tangan dan ketiga puterinay pergi dengan perahu, Sherly mendayung dengan perlahan.
Ditengah sungai mereka bertemu perempuan tua bertongkat dengan mata yang hijau. Ketiganya terkejut.
: tenag adik-adikku, bicara seperlunya saja” Kata Whitney setengah berbisik
“ aku takut kak “ kata Sherly
“ aku juga “ kata Sherlomita
“ tenanglah ibu dan Jack sudah mendoakan kita, mudah-mudahan kita bisa lewati sungai ini dan samapai di dusun Aria”
“ hehehheehhe, tiga gadis cantik, kalian mau kemana, hehhehehhe?”
“ nenek yang baik hati, kami mau ke dusun Aria, diundang bernyanyi “ ucap Whitney
“heheheheh, menyanylah untukku saja, nanyi kalian kuberi tiga koin keberuntungan, hehhehehehe”
“oh nenek yang baik hati, biarlah kami bernyanyi untukmu tanpa dibayar” jawab Sherly
“ hush, nanti kita dtangkap” bisik Sherlomita
“ menurut kalian apa kita katakana tidak , dan melanjutkan perjalanan saja?” ujar Whitney
“ kakak kita bernyanyi saja, siapa tahu koinnya nanti dipakai  bisa mencari obat Ayah
ujar Sherlomita
“hmmm, bagaimana ya” ujar Whtney
“ baiklah, kita bernyanyi sebentar sajam ingat tujuan kita mencari oabat ayah bukan menghibur nenek kesepian ini disungai”
“heheheh, awas kak, nanti kedengaran olehnya kita bisa disihir jadi  ikan mas koki “”
“akh kamu ada-ada aja”
Nenek sihir nampaknya heran dan setengah marah
“ hei kenapa kalian berbisik apa kalian membicarakanku, ayoo menyanyi untukkku,jika tidak kusihir kalian jadi kecebong”hardik si nenenk sihir
Setengah terkejut ketiganya bernyanyi kompak..
“tralalal trilili nenek yang baik hati, mari menayanyi menari, lompat kanan, lompat kiri, taralala tralili, ayo goyang kanan, goyang kiri”
Kami tiga puteri siap mengibur hari yang indah ini, bersama kicau burung di pagi hari”taralala trilili, apakah kamu senang menyanyi, kami senang sekali, bukanakah suara kami merdu bagi burung puyuh menyanyi”taralala trilili”
Sang nenek sihir bergoyang goyang dengan senang dan langsung mlempar tiga koin
“ ini koin keberuntungan hanya bisa dipakai saat suara ayam berkokok, maka permintaan aklian akan terkabul,heheheheh, see you puteri “
Sinenek sihir tiba-tiba lenyap dari pandangan mata.
Tiga koin logam itu jatuh di badan perahu
“kakak, ini tiga koin” ujar Sherly
“simpanlah, kita lewati sungai ini hingga ayam berkokok”
“ saya rasa tak perlu kak, mari kita pulang saja, tiga koin ini kita coba dirumah, bukankah kita bisa sampai pagi di rumah”
“ kata tabib jagung emas di Aria, kita harus kesana bukan “ ujar Sherlomita
“ kita harus ke dusun Aria, mungkin disana koin ini bisa dipakai, kita jangan terkecoh” ujar Whiyney
“ Baiklah kaka” ujar Sherly”
“ Ya, saya setuju” ujar Sherlomita
**

Meraka tiba di dusun Aria, lalau ketiganya bergegas kepasar dan bernaynyi, tiba-tiba ada seorang pedagang jagung yang berteriak , jagung-jagung”
“ kak itu penjual jagung,siapa tahu ada jagung emas’ ujar Sherly
“ benar katamu, coba tanya”  Ujar Sherlomita
**

“ Pak ada jagung emas?’
“hehehe, untuk apa saya jual jagung emas, kalau dari emas mending istri saya pakai buat perhiasan, aneh sekali kamu  kalian  wahai penyanyi rupawan”
“ oh maaf pak” Ujar Sherlomita
Mereka pergi bertiga dengan tangan hampa, tiba- tiba terdengar suara ayam jantan berkokok nyaring.
Kukuruyuuuuuuuuuuuuk…. Kukuruyuuuuuuuuuuuuk…. Kukuruyuuuuuuuuuuuuk….
“ ayo keluarkan koin kita
“ iya kak, aku tadi letak di saku kanan, tak ada”kata Sherly
“Hah!!!, kemana koin itu, jatuuuh ya, kamu kenapa tak hati0hati” ujar Whitney
“ini ada di saku kiriku, kok bisa pindah ya?’ ujar Sherlomita
“ ya sudah , minta jagung emas”
“koin keberuntungan satu kami minta jagung emas di depan kami” ujar Sherly lantang
Tiba-tiba jagung yang tadi dijual ada dihadapan mereka menjadi jagung emas.
Mereka bertiga takjub
“ oh syukurlah ini jagung emas kita” ujar Sherlomita
“ayo pulang segera”
“ tunggu jangan ambil jagungku” ujar penjual jagung dusun Aria
Mereka bertigalari kencang hingga ke sungai
“ koin keberuntungan dua,kirimkan kami perahu terbang”
Tiba-tiba perahu terbang muncul dihadapan mereka bertiga
“ koin tiga izinkan kami tiba selamat dirumah kami dusun Palala”akhirnya mereka samapai didusun Palala
**

Hari masih pagi , Bu Pindy memeluk ketiga puterinya dan melihat jagung emas yang mereka bawa, dan Bu Pindy langsung meletakkan jagung itu mengelilingi pembaringan suaminya, suaminya membuka mata dan Nampak segar dan sembuh
“ terimakasih puteri-puteriku, akhirnya akau sembuh berkat Tuhan dan usaha kalian
” Pak Coddy memeluk ketiga puterinya dan Istrinya
Tak berapa lama Jack dayang membawa tiga pundi uang
“ syukurlah Ayah sembuhm ini hasl penjualan jagung kita Ayah, esok kita tamasya ke Queen Park
“ Horeeee” ujar ketiga puterinya. Akhirnya Keluarga Pak Coddy dan Bu Pindy kembali bahagia karena Pak Coddy sudah sembuh dari sakitnya yang aneh, semenjak itu jagungemas selalu ada di lantai dua rumah mereka. Menjauhkan mereka dari sihir-sihir  rakyat dusun Aria.

Wednesday, October 16, 2013

Sabar yang bertahta

Engkau yang telah lama melangkah dalam labirin rasa
Berjalan mencari-cari tak tentu arah
Setelah tersadar dalam hati yang terpencar
Akulah yang terbaik yang terbaik
Ku sabar menunggumu dalam titik zenith sang waktu
Dalam bilangan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan menahun
**
Engkau kekasihku kini merinduku
Mencari –cari jalan untuk kembali pulang ke rumahmu
Dan engkau pun tahu rumahmu adalah jiwaku
Jiwa yang teduh yang selalu menerimamu utuh
Selalu ada satu nama dan itu namamu
***
Sabarlah sabar kekasihku
Engkau akan selalu menemukan jalanmu
Jalan yang menemukanmu dengan dekap pelukku kembali
Engkau hanya salah untuk pertama kali memahami sepotong hati
Aku sabar dalam maafku
Dan senyumku mengembang menujumu
Dari sinaran mata hingga ke palung hatimu
Dan aku hanya untukmu
**
Sabarlah kita akan bersua dalam sedalam rasa dan asa
Selamanya dihidupmu akulah kekasihmu
Meski engkau pernah singgah di hatinya sekian lama
Namun engkau kembali dalam kesabaranmu mencariku
Aku yang pernah pergi membawa luka hati berlari
Sejauh matamu yang tak mampu mencari
**
Dan kesabaranku menantimu
Sabar yang bertahta menemukan dua hati
Hatiku yang luka menanti, hatimu yang rindu mencari
Akhirnya manunggal bersama waktu yang menjemput kembali
**
Sabarku dan sabarmu bertahta
Menemukanmu separuh jiwa yang setia mencintai
Kali ini harus abadi
Jangan pernah lagi pergi setelah engkau kembali
Sabarku yang bertahta menemukan mahkotanya
Mahkota bernama cinta abadi


inspired by Afgan song " sabar, oktober 2013

Tuesday, October 15, 2013

Hingga kita Menua

Lalu inilah awal dari semua perjalanan kita
Engkau memilihku
Menujuku
Dalam langkahmu
Dalam tatapanmu
Dalam ingatanmu
Dalam genggamanmu
Dalam pelukanmu
**
Engkau dalam legamu
Meyakinkanku dengan kesungguhanmu
Mengirimiku puisi di buku, di hp, di hariku
Menyisipkan lagu indah dalam ceritamu
Menungguku sepertiga malam hingga shubuh
Saat aku masih merajut mimpi memburu waktu
Menuntaskan janji-janji dan 1001 mimpi masa mudaku
**
Apakah yang lebih indah dari pertemuan
Saat kehadiranmu adalah keajaiban
Semua kisah kita yang tertunda adalah kesempurnaan
Engkau hadir disaat yang tak pernah kuduga
Akankah satu untuk selamanya
Kenapa harus menunggu sekian lama
**
Aku yang tak sempurna seperti yang kau kira
Berhentilah memberiku pertanyaan retorik
Maukah bersamaku mengeja harapan melangkah ke depan
Jangan lagi pertanyakan semua keadaan yang tak berpihak
Jangan lagi meragukan semua bahasa rasa
Jangan dustai keyakinan yang sudah engkau mulai
Jangan keruhkan beningnya hati yang sudah memilih
Jangan menjauh dalam keramaian jiwa yang bereforia untuk bersama
**
Aku hanya ingin denganmu
Denganmu aku sempurna
Menantimu di rembang senja
Menyaksikan pelangi terakhir di langitNya
Ku ingin bersama selamanya
Hingga kita menua

Lelaki Yang pergi Dari istana

Engkau lelaki yang berbeda
Lelaki cerdas, santun dan gentleman
Lelaki dari timur negeri khatulistiwa
Lelaki yang pergi dari Istana
Kau terima amanah tanpa curiga
Sudah lima kali kita bersua
Dari ruang perpustakaan, sekretariat negara hingga istana
Selalu menitipiku inspirasi dan semangat berkarya
Aku tak pernah lupa, aku adikmu yang hijau
Kau sebut aku srikandi muda yang ceria
**
Malam itu kutemukan lagi senyummu
Dalam jamuan makan malam istana
Suasana hangat dalam alunan nada khas nusantara
Semua bahagia dan nampak tersenyum sumringah
Saling menyapa dengan ramah
Melintasi karpet merah
Meja yang tertata bunga mawar putih dan merah
Bertanda VVIP didepannya
**
Engkau masih dengan senyummu , hangat bersahabat
Gagah menggunakan jas hitam dipadu dasi merah
Engkau Lelaki yang pergi dari Istana
Sang doktor politik yang cerdas dan bersahaja
Mempersembahkan baktimu sebagai juru bicara
Pertemuan kita di istana memberi warna
Untuk menjadi sosok yang berguna untuk bangsa
Ada aura persahabatan dan senyummu yang hangat
Membuat pertemuan penuh makna dan hikmat
**
Engkau lelaki  yang pergi dari istana
Kemarin engkau nampak lelah
Duduk terdiam di taman belakang istana
Merenung dalam memaknai arti sebuah harga diri
Engkau sudah begitu jauh berjalan
Berjalan dalam lorong lorong sepi kebenaran
Sahabatmu pun meninggalkanmu
Mereka yang dulu mengelu-elukanmu
Meninggalkanmu dengan label tersangka
**
Tapi selalu ada yang setia
Bunda dan belahan jiwa yang mencintaimu
Selalu ada untuk menguatkanmu
Bahkan ketika ragamu lelah untuk mengukir prestasi bangsa
Menyatukan perpecahan pemuda
Merekalah yang mengenal pribadimu yang sederhana
Engkau hanya seseorang yang salah masuk ruang karya
Yang terlihat indah mempesona
Mengira meraka adalah rekan seperjuangan
Padahal musuh yang berjubah malaikat kebenaran
Jum’at yang hikmat menanti neraca memutuskan
Cukuplah doa bunda dan keluarga yang tegarkanmu
Pelukan mereka yang menghangatkan jiwamu yang lelah
**
Dalam sebuah cerita keabadian
Jangan perrnah retakkan bola kristal
Karena memilih bola karet
Jangan pernah retakkan dunia cinta
Karena dunia pengabdian begitu fana
Tetaplah tersenyum dalam duka
Syukuri caraNya mengembalikanmu pada dunia asa

Thursday, October 10, 2013

Perempuan Parlemen dari Senayan



Sosok perempuan bersahaja itu lahir dari  Pulau  Sumatera
Puteri  dari pasangan birokrat biasa
Cucu dari veteran pembela bangsa
Sang Bapak mengabdi untuk masyarakat memberantas buta aksara
Sang Ibu melayani kesehatan masyarakat dari satu desa kedesa
Sang kakek mengembangkan pesantren dan masjid hingga sisa usia mereka
Perempuan itu terbiasa hidup dalam lingkungan  sosial berdampingan  dengan masyarakat
Dongeng masa kecilnya bertajuk cerita ketauladanan
Cerita perjuangan sebagai pegangan kehidupan
**
  Yannura, sosok perempuan kecil yang ceria
Senang membaca, menulis dan berdiskusi dengan Ayahnya
Kritis dan punya rasa ingin tahu yang luar biasa
Bercita-cita jadi seorang pendidik generasi muda
Memberi warna, inspirasi dan semangat membara
Untuk calon-calon penerus bangsa
**
Sore itu di satu ruang rapat gedung rakyat
Jam-jam sibuk diskusi hingga dengar pendapat
Dari sidang yang satu ke sidang yang lain
Yannura semangat dan tak kenal lelah
Meski rindu untuk segera pulang kerumah
Bersua belahan jiwa dan malaikat kecilnya
Meneduhkan hati meraih energi cinta
**
Yannura sosok gadis kecil yang ceria
Senang membaca, menulis dan berdiskusi dengan Ayahnya
Kritis dan punya rasa ingin tahu yang luar biasa
Hingga merantau menuntut ilmu ke kota
Aktif dalam oraganisasi dan forum mahasiswa
Hingga Yannura menghapus mimpinya yang pertama
Kisahnya berubah menjadi anggota dewan perempuan pertama di desanya
**
 Sore itu di sebuah gedung rakyat
Jam-jam sibuk dari rapat hingga dengar pendapat
Dari sidang yang satu ke sidang yang lain
Dari kunjungan kerja hingga kunjungan negara
Yannura menyuarakan aspirasi masyarakat
Aspirasi daerah yang menggelora
**
Dunia Politik bukanlah pilihannya namun jadi amanah dipundaknya
Dalam riuhnya dunia politik yang bergetah
Yannura tak pernah berubah
Tak terusik dengan  suap dollar dan rupiah
Meneguhkan langkah meski dianggap berbeda
Yannura berhasil memperjuangkan kesejahteraan daerahnya
Dengan promosi produk lokal dan kerjasama bilateral
Berkorban waktu, tenaga dan materi dan hati
Dermi sejahteranya negeri
Terkenang senyuman masyarakat
Merasakan pelukan mereka yang hangat
Yannura, perempuan bersahaja sang anggota dewan
Tetap teguh dalam kesetiaan
Janji dan ikrar yang diucapkan di bawah naungan Al Qur'an
Bukanlah prosesi bualan yang tidak sakral
**
Yannura selalu teringat pesan almarhum ayahanda dan kakek tercinta
Sebaik-baik insan adalah seorang yang bermanfaat untuk masyarakat
Sebaik-baik ilmu adalah yang dipraktikan dan diajarkan
Sebaik-baik perjalanan adalah menuju keridhoan Tuhan
Membingkainya dengan kesyukuran
**
Yannura sang senator bangsa
Perempuan parlemen bersahaja
Anggota dewan yang cerdas, kritis dan berjiwa muda
Selalu teguh menegakkan sholat dan dhuhanya
Membaca lembar-lembar suroh dalam kitabnya
Menitikkan air mata dalam heningnya masjid Baiturrahman
Merenungkan perjalanan yang sunyi dalam kebenaran
Menutupnya dengan untaian doa-doa  memaknai kesungguhan
Yannura, sang anggota dewan, perempuan bersahaja dari Senayan
**

Tenun buat Sultan



Jemarimu tak henti memadu benang
Mengrhantakkan kaki dan tangan yang berirama
Memberi corak, membentuk motif, memadu warna
Dalam selembar kain yang engkau tenun
Setelah setahun dalam tekun
Akhirnya selembar  tenun kau persembahkan
**
Engkau gadis penenun
Dalam kesetiaan  yang menahun
Memadu benang emas dan warna alam dari gunung
Menyempurnakan mahakarya dan warisan budaya
Kain tenun terbentang indah
Dalam kreasi  cipta, rasa dan cinta
Ada bahagia dalam hati sang dara
Menanti kekasih hati akan segera tiba
**
Kain tenun kau persembahkan untuknya yang kau puja
yang meminangmu untuk bersama
Menanti kedatangannya saat idul adha tiba
Setelah sekian lama menuntut ilmu di negeri piramida
Kini melabuh rindu berganti bahagia
**
Kain tenun untuk Sultan
Telah kau siapkan sepekan sebelum kedatangan
Membayangkan kebersamaan dan suka cita dengan keluarga besar
Kain tenun sebagai kain persembahan
Hadiah dari hati untuk  sang pencuri hati
Sosok santun, cerdas dan mandiri
**
Jauh di negeri seberang
Sultan menuliskan lembar terakhir puisinya
Dalam sebuah kisah perjalanan
Mepersembahan tulisan
Dalam buku yang dihadiahkan untuk  kesungguhan
melabuhkan cita dan cinta dalam ikhtiar
**
Sultan tiba saatnya pulang
Setelah sekian tahun berkelana
Menjadi bagian kaum intelektual dan cendikia dunia
Tiba saatnya pulang ke tanah air tercinta
Memberi makna pada waktu
Menebar ilmu, menjemput cinta
Menyatukan restu bunda dan ridhoNya
Dan menerima tenun persembahan dari bidadari hatinya
Kain tenun untuk sultan adalah cerita tentag kesetiaan