The Spirit

The spirit will comes after your will. I see, I hear, I write, I celebrate all moment with words...

waiting is inspiring

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

I love sharing positive mind and feeling

my life teach me to believe my inner strength

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tuesday, July 19, 2016

Sebait Puisi dan Kampanye Sang Calon Presiden



07.00 wib

Dindaning membaca koran pagi dengan wajah berkerut. Perempuan asli peranakan Batak dan Melayu itu terlihat membalik lembaran koran pagi dengan cepat. Sambil menyeruput teh manis hangat dan sesekali meyuap nasi uli kemulutnya.  Dia terus membolak balik halaman dan tak menemukan kolom yang dia cari.

uppph " suaranya menggumam pelan

Halaman satra dan budaya sukses hilang sejak semuaberita-berita politik semakin menguat di harian  Nusantara Post. Mungkin politik lebih seksi dan menggiurkan ketimbang barisan bait puisi yang metaforik, pikirnya.Koran lokal penuh dengan berita-berita politik yang makin memanas dan pertarungan para pimpinan daerah tersebar disetiap lembar juga berita para calon pemilihan presiden dengan photo-photo yang beredar di halaman koran lemgkap dengan profilnya.


Din, jadi ikut ibu ke rumah pamanmu" suara Bu Niar membuyarkan lamunan Dinda
" Iya bu, sebentar, saya belum mandi"
" oalah ini sudah jam berapa Din, apa ibu tinggal saja, kamu menyusul ya"?
" sama-sama aja ya Bu"
" waduh gimana ini anak perempuan harusnya dari pagi sudah siap masak dan beres-beres rumah, ini malah menghayal terus, menulis puisi terus, saya bingung kenapa lulusan S2 Hubungan Internasional bukannya kerja di kantoran, kedutaan, perusahaan malah kerja gak jelas di perpepustakaan, duh Dinda..Dinda"

" bu, Din sudah siap"
Bu Niar melihat puterinya sudah rapo dengan kerudung hijau tosca dan baju tunik putih, senyumnya mirip almarhum suaminya yang sudah tiada sejak 10 tahun lalu .

" lho jadi sedari tadi kamu sudah berdiri di situ toh"
" Ya bu, Dinda juga sudah dengar semua aspirasi Ibu, akan Dinda tampung dalam otak sebelah kanan dan nanti Dinda buatkan ibu puisi selepas senja"
" Dinda..dinda apa bisa kenyang sama puisi-puisi yang kamu tulis itu nak" Wajah Bu Niar memerah antara menahan senyum dan kesal. Tapi jauh dilubuk hatinya dia bangga dengan puteri pertamanya yang sudah menyelesaikan S2 dari beasiswa Pemerintah daerah dan membantu dua orang adiknya hingga sarjana dari honornya menulis artikel dan puisi di koran nasional dan daerah. Dindaning mirip dengan eatak suaminya yang kritis dan romantis. Karir terakhir suaminya adalah Kepala Humas di Kantor daerah. Jika waktu senggang suaminya sering menulis puisi dan mengirimkan ke kantor daerah.

**

Lelaki terakhir dari Anatolia

Lelaki terakhir dari Anatolia


Kupandangi wajahmu yang teduh
Seperti derai derai daun lusuh
yang lembut disapa angin dan jatuh

Engkau lelaki dari Anatolia
Yang merangkai bait puisi untukku
Dengan mengukir namaku dikursi kayu
Saat pertemuan kita yang ketujuh
Di anatolia kota kecilmu



Engkau lelaki terakhir dari Anatolia
Yang merindukan kembali masa kecilmu
Yang penuh kisah klasik
sang pujangga dan raja
Namun akhirnya kau pergi
Membawa luka dan mimpi
yang tertunda selepas sunyi

Engkau lelaki terakhir
Cintamu tak berbalas bahagia
Hanya kisah yang kuterima
Bahwa aku mengaguminya
dari bait puisi



Seorang lelaki terakhir
yang telah pergi dari Anatolia
dengan meninggalkan sebait puisi sepi
tentang daun daun jatuh di Anatolia
Selepas senja berpelangi



Senayan, 18 juli 2016
Kupandangi wajahmu yang teduh Seperti derai derai daun lusuh yang lembut disapa angin dan jatuh Engkau lelaki dari Anatolia Yang merangkai bait puisi untukku Dengan mengukir namaku dikursi kayu Saat pertemuan kita yang ketujuh Di anatolia kota kecilmu Engkau lelaki terakhir dari Anatolia Yang merindukan kembali masa kecilmu Yang penuh kisah klasik sang pujangga dan raja Namun akhirnya kau pergi Membawa luka dan mimpi yang tertunda selepas sunyi Engkau lelaki terakhir Cintamu tak berbalas bahagia Hanya kisah yang kuterima Bahwa aku mengaguminya dari bait puisi Seorang lelaki terakhir yang telah pergi dari Anatolia dengan meninggalkan sebait puisi sepi tentang daun daun jatuh di Anatolia Selepas senja berpelangi Senayan, 18 juli 2016

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/edridapulungan/lelaki-terakhir-dari-anatolia_578e0e524323bdc10877046f
Kupandangi wajahmu yang teduh Seperti derai derai daun lusuh yang lembut disapa angin dan jatuh Engkau lelaki dari Anatolia Yang merangkai bait puisi untukku Dengan mengukir namaku dikursi kayu Saat pertemuan kita yang ketujuh Di anatolia kota kecilmu Engkau lelaki terakhir dari Anatolia Yang merindukan kembali masa kecilmu Yang penuh kisah klasik sang pujangga dan raja Namun akhirnya kau pergi Membawa luka dan mimpi yang tertunda selepas sunyi Engkau lelaki terakhir Cintamu tak berbalas bahagia Hanya kisah yang kuterima Bahwa aku mengaguminya dari bait puisi Seorang lelaki terakhir yang telah pergi dari Anatolia dengan meninggalkan sebait puisi sepi tentang daun daun jatuh di Anatolia Selepas senja berpelangi Senayan, 18 juli 2016

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/edridapulungan/lelaki-terakhir-dari-anatolia_578e0e524323bdc10877046f
Kupandangi wajahmu yang teduh Seperti derai derai daun lusuh yang lembut disapa angin dan jatuh Engkau lelaki dari Anatolia Yang merangkai bait puisi untukku Dengan mengukir namaku dikursi kayu Saat pertemuan kita yang ketujuh Di anatolia kota kecilmu Engkau lelaki terakhir dari Anatolia Yang merindukan kembali masa kecilmu Yang penuh kisah klasik sang pujangga dan raja Namun akhirnya kau pergi Membawa luka dan mimpi yang tertunda selepas sunyi Engkau lelaki terakhir Cintamu tak berbalas bahagia Hanya kisah yang kuterima Bahwa aku mengaguminya dari bait puisi Seorang lelaki terakhir yang telah pergi dari Anatolia dengan meninggalkan sebait puisi sepi tentang daun daun jatuh di Anatolia Selepas senja berpelangi

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/edridapulungan/lelaki-terakhir-dari-anatolia_578e0e524323bdc10877046f
Kupandangi wajahmu yang teduh Seperti derai derai daun lusuh yang lembut disapa angin dan jatuh Engkau lelaki dari Anatolia Yang merangkai bait puisi untukku Dengan mengukir namaku dikursi kayu Saat pertemuan kita yang ketujuh Di anatolia kota kecilmu Engkau lelaki terakhir dari Anatolia Yang merindukan kembali masa kecilmu Yang penuh kisah klasik sang pujangga dan raja Namun akhirnya kau pergi Membawa luka dan mimpi yang tertunda selepas sunyi Engkau lelaki terakhir Cintamu tak berbalas bahagia Hanya kisah yang kuterima Bahwa aku mengaguminya dari bait puisi Seorang lelaki terakhir yang telah pergi dari Anatolia dengan meninggalkan sebait puisi sepi tentang daun daun jatuh di Anatolia Selepas senja berpelangi

Selengkapnya : http://fiksiana.kompasiana.com/edridapulungan/lelaki-terakhir-dari-anatolia_578e0e524323bdc10877046f

Monday, July 18, 2016


Sendiri
Gengan waktu yang mencumbu
Hanya ada diri itu 
dan diri itu
lalu menujuNya
sendiri

Bukit Lubuk Raya, Juli bergerimis 2016



Lampau

Bagai derai-derai cinta
merindukan banyak peristiwa lampau
Klasik dan berkelas
Namun kembali ke tumpukan buku berdebu
Dengan aku yang kehilangan

Masih ingat bagaimana hujan menemaniku
Dengan berlembar kisah bersambung
Dalam amajalah remaja
Juga cinta yang mulai mengenalkan rupanya
dan kecewa diujungnya

Tuesday, July 12, 2016

Berpelukan dengan Pagi



Seperti biasa aku memeluk embun
dan tetes-tetes keringatmu di keningku
mengecup setiap pejam di mataku
aku rindu berpelukan dengan pagi
yang selalu mendamaikan hariku
menjadi semesta
dalam orkestra damai

Thursday, June 30, 2016

Sang Santri



Pagi masuh ranum
Gema azan mengetuk bilik  insan pecintaNya
Engkau dalam lelapmupun terjaga
Orkestra syahdu itu membangunkan pejammu
disambut suara kokok ayam yang menyanyi riang
Membangunkanmu yang baru terlelap untuk menyambut paginya
di desa kecil di hamparan bukit barisanDisanalah engkau dibesarkan 
dalam kebersahajaan
Pohon jambu air  mulai berbuah
embun mengintip pada kelopak mwar yang merekah
Kau sambut pagi
dalam beningnya fajar 
menegakkan dua rokaat dalam makrifat
cahaya shubuh keemasan mengecup sujudmu

Lafaz  ayat-ayat Alqur'an berkumandang
dari surau kecil di seberang
Terdengar suara gemericik air
dan ibu meniup api di tungku  kayu
hendak memasak air dan menanak nasi
dan memasak ikan asap
Bekalmu untuk berangkat di pagi ini
menuju kota santri
menuntut ilmu dan mengemban amanah
memantapkan langkah
Hingga berjejak ia tanpa pasrah


Hari itu tiba
Hari pertamamu
Pelukan ibu menghantarkan langkahmu
Ada derai air mata dan doa 
hingga ibu megusap ubun-ubun kepalamu
Bapakpun memelukmu
melepasmu dalam haru
mungkin seluruh mantra dan doa melingkar disana
menitipmu di pondok psantren di kaki bukit
Kau beningkan hati menjadi seorang santri 
dalam gejolak masa muda yang penuh gairah

Dan engkaulah sang santri
Sosok muda yang masih hijau
Masih kau rawat segenggam  mimpi
Meski tidak setinggi keluarga priyayi 
tapi jiwa besarlah yang engkau miliki 

Engkaulah sang santri muda
yang menjejak langkah
menuju perjalanan keabadian
Mengkaji kalam Allah, belajar pidato dan kitab kuning
Sesekali engkau berkumpul dengan sahabat  
Bercanda, bermain, berolahraga dan belajar bersama
Tiba-tiba santriwati manis melintas anggun
Tersenyum malu-malu di depanmu
Teringat pesan sang guru dan kyai
Menjaga pandangan di masa mudamu  

Engkau Santri muda 
menggenggam pepatah dalam doa 
dengan keyakinannya dan semangat juang
Man Jadda Wa jada
Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil
Engkau yakini itu
Kadang engkau menangis dalam air mata kerinduan
Rindu dengan Ibu dan bapak di kampung halaman 
Namun engkau harus berjuang semampumu 
Meski sedepa yang penting usaha
dalam merajut cita-cita engkau rajin menghapal kalam Allah

Tiada yang sia-sia, sungguhkah itu
Sering terlintas dalam ragumu
karena dunia semakin terbuka
Hanya ilmu, akidah dan akhlak mulia
yang menjaga insan di dunia
dan membangun peradaban mulia

Engkau yakin akan terlahir sebagai pemimpin
Dan kelak hadirmu memberi manfaat
Untuk  keluarga, agama, bangsa dan ummat
Wahai santri muda selamat menuai ilmu untuk masyarakat
menuju pribadi mulia, bermanfaat dan bermartabat

Pondok Psantren di kaki Bukit, Sumatera Utara 2010


Tuesday, June 28, 2016

Sajadah Lusuh



Sajadah Lusuh

   Gambar 1 : Ilustrasi sajadah lusuh doc www.aliexpress.com


Airmata itu menganak sungai bermuara pada sajadah yang lusuh
tiba-tiba potongan kenangan menjadi rindu yang keperakan
menyilaukan dan menggempur hati menjadi haru biru
sesungguhnya tiada yang salah dengan waktu
hanya engkau tak pernah tahu 

mengapa terlalu lama melabuhkan rindu, 
berlari dalam labirin duka yang menahun
lalu siapakah yang akan menuntun
wahai jiwa yang hanya mengandalkan ubun-ubun
kelak engkau akan menjadi santun
dalam potongan detik yang tidak lagi menahun


Pada sajadah lusuh itu
engkau berhutang rasa
berterimakasih padanya
yang memberikanmu warisan kenangan
disana seluruh doa dan harapan ditumpahkan
hingga membanjir kata penuh pengharapan
Namun sudahkah engkau basuh sajadah lusuh itu
dengan airmata yang paling bening yang engkau punya
bukan keruh penuh kerikil dan lumpur
dari gunung matamu yang hampir meletus
karena sebuah kultus

sajadah lusuh itu
telah lenyap selepas shubuh



shubuh keperakan, Masjid Istiqlal, 28 juni 2016