Tuesday, March 11, 2014

Perempuan-Perempuan Pesisir





                          photo ilutrasi Kompasiana.com. Antara

  1

Kau menyapa hangat mentari sedari tadi
Butiran keringat meneteskan senyum
Debur ombak bergemuruh
Angin semilir mengayuh runtuh
jari-jarimu menari
Legam, kencang, kuat
Mencengkram ikan
Dalam bongkahan es yang mulai mencair

2

Ikan tangkapan segar bugar
Mulai membiru menjelang siang
Namun Engkau merasa senang
Engkau bertepuk menang
Sebersit harapan kesyukuran
Diwajahmu yang bersahaja
Wahai Perempuan-perempuan Pesisir
Pejuang kehidupan
Engkau ada dalam dua dinding kokoh
Dinding Kepapaan
yang bersanding dengan kemiskinan
Mesra

3

Perempuan-perempuan Pesisir
Engkau Menunggu petang tanpa senja
Membakar kayu di tungku perapian
Menanak nasi 3 jemputan tangan
Asapnya mengepul
Anak-anak berlarian
Bertelanjang badan
Engkau sajikan santap malam
Dengan ikan satu-separuh di pinggan
Hingga mereka kenyang dan tertidur pulas dalam pelukan
Nyala lilin yang mendamaikan

4

Jelang malam
Tanganmu masih menari
Menyisihkan hasil tangkapan
ikan-ikan segar dengan mulut yang masih megap-megap
kau jual ke pasar
demi rupiah
dengan harga murah
sekeping sepuluh keping rupiah
yang penting laris
Perlu uang anak sekolah

5

Perempuan-perempuan pesisir
Engkau berdesakan
Berlari ketengah
Mencari-cari sosok dewa
Mengiba kepada sang toke kapal
Rentenir si raja rupiah
Akh kau jangan kalah Perempuanku
kenapa menyerah
tercekik dengan keluguanmu
Hutang membubung
Suamimu linglung
Jiwamu merintih tersandung

6

Perempuan_perempuan pesisir
Ejalah lautan dengan aksara
Hitunglah senja dengan angka
Jangan buta raih ilmu sang bijaksana
Majulah dengan waktu
Jangan menyerah dan terpinggirkan
Bermartabat dalam perjuangan
Tinggalkan lelahmu
Tuntut ilmu tak usah malu
peluk anak-anakmu
Mengeja aksara
Pendidikan bermutu
Menuju masa depan peradaban

7
Perempuan-perempuan pesisir
Engkau adalah saksi sejarah
Anak-anak bangsa
Yang kau sematkan impian dan cita-cita di dadanya
Perempuan-perempuan pesisir
Pewaris perjuangan dengan darah berdesir

Pesisir Timur Indonesia, Takabonerate, 2013

Puisi ini masuk highlight Kompasiana 11 Maret  2014
dan Masuk Headline 12 Maret 2014  lihat


dengan harga murah
sekeping sepuluh keping rupiah
yang penting laris
Perlu uang anak sekolah
5
Perempuan-perempuan pesisir
Engkau berdesakan
Berlari ketengah
Mencari-cari sosok dewa
Mengiba kepada sang toke kapal
Rentenir si raja rupiah
Akh kau jangan kalah Perempuanku
kenapa menyerah
tercekik dengan keluguanmu
Hutang membubung
Suamimu linglung
Jiwamu merintih tersandung
6
Perempuan_perempuan pesisir
Ejalah lautan dengan aksara
Hitunglah senja dengan angka
Jangan buta raih ilmu sang bijaksana
Majulah dengan waktu
Jangan menyerah dan terpinggirkan
Bermartabat dalam perjuangan
Tinggalkan lelahmu
Tuntut ilmu tak usah malu
peluk anak-anakmu
Mengeja aksara
Pendidikan bermutu
Menuju masa depan peradaban
7
Perempuan-perempuan pesisir
Engkau adalah saksi sejarah
Anak-anak bangsa
Yang kau sematkan impian dan cita-cita di dadanya
Perempuan-perempuan pesisir
Pewaris perjuangan dengan darah berdesir

Pesisir Timur Indonesia, Takabonerate, 2013

Puisi ini mauk highlight Kompasiana tanggal 11 Maret 2014 
dan Masuk Headline 14 Maret 2014 mendapat banyak tanggapan dan apresiasi para kompasiana. terimakasih




0 comments:

Post a Comment