Thursday, May 9, 2019

Pilih tradisi mana Marpangir atau Munggah jelang Ramadhan?



Masyarakat yang bersuka cita dan senang menyambut bulan ramadhan biasanya selalu memiliki tradisi yang khas di setiap daerah. Saya jadi ingat saat masih kecil di tanah kelahiran, kota salak, Padang Sidimpuan. Sebagai seorang bersuku Batak mandailing biasanya  tradisi masyarakatnya dengan melaksanakan tradisi " marpingir" atau mandi dengan pangir. Mandi dengan aneka ramuan  seperti daun pandan, asam limau dan lain sebagainya, sehingga ketika mandi, maka tubuh akan harum, Biasanya kita mandi di sungai dan biasanya mandi ke sungai bagaikan piknik. Beramai-ramai pergi dengan para teman sebaya atau dengan keluarga sambil membawa bekal makanan. Setelah mandi , tubuh wangi dan bersih. Lalu menghamparkan tikar di pinggir sungai sambil makan dengan lahap. Sungguh kenangan yang tak bisa dilupakan saat masa kecil hingga saya beranjak SMU. Bapak saya juga biasanya semangat juga membawa kami sekeluarga  mandi di sungai sambil ziarah ke kampung nenek di daerah Mandaiing Natal. Meskipun begitu Bapak yang terbilang santri dari salah satu psantren tertua di Tapanuli Selatan yakni Psantren Purba Baru selalu berpesan bahwa " Marpangir bukan bagian syariat islam, jadi diniatkan saja mandi untuk membersihkan badan". saya dan adik-adik saya asyik -asyik aja mandi-mandi dengan ramuan rempah pangir. Sedangkan Bapak biasanya mencari tempat untuk kami makan bersama membawa bekal di sekitar sungai Aek Sijorni.


Gambar 1 : Aneka Rempah dan ramuan wewangian Marpangir, doc. humassumut.id

Setelah saya merantau ke Jakarta, saya mulai melupakan tradisi marpangir, meskipun sebenarnya bisa mencari ramuan dan rempahnya di pasar tradisional bendungan Hilir atau di pasar Senen dekat Kwitang. Karena saya cukup lama tinggal di dua daerah ini. Namun terkadang karena keadaan, kondisi dan kesibukan, tradisi marpangir mulai terlupakan oleh saya setelah di ibukota. Hingga saya berkeluarga dan menikah dengan sosok pria betawi kemayoran yang juga punya tradisi tertentu yakni  melaksanakan " munggahan" atau "  munggah" yang artinya " naik atau berangkat ke usia yang lebih tua"   dengan mengunjungi orang-orang yang lebih tua untuk meminta maaf dan berdoa bersama agar berkah dan lancar dalam berpuasa artinya sama juga dengan silaturahim dari yang lebih muda  kepada  yang tua. Melakukan ziarah kubur untuk membersihkan kuburan orang tua serta mengirimkan doa buat almarhum atau almarhumah. Setelah itu ditutup dengan bulan rowah sebagai bulan penutupan sebelum masuk ke bulan Ramadan, yakni mengumpulkan atau mengundang sanak famili untuk  mengirim doa arwah juga sebagai ajang untuk berbagi dari pihak yang berkecukupan kepada orang yang secara ekonomi masih kekurangan. Setelah itu membersihkan rumah serta mempersiapkan  kelengkapan bahan makanan buat munggah. Salah satunya termasuk mengecat rumah, mencuci tirai, dan membersihkan sudut-sudut rumah agar terlihat lebih bersih. Begitu pula dengan munggahan tujuannya adalah silaturahmi dan punya makna dalam sunnatulloh.

Namun antara munggahan dan marpangir adalah bagian dari tradisi masyarakat yang bersuka cita, bersyukur dan bersiap-siap menyambut ramadhan , dan tiada salahnya jika ingin mengikuti tradisi yang penting niat yang bersih agar terhindar dari hal yang syirik seperti sebagian pendapat orang bijak dan ulama. Lalu saya pilih yang mana " marpangir" atau " "Munggahan"? saya ikut keduanya Marpangir pakai pandan, asam purut dan bunga sedap malam yang saya petik dari kebun teman suami di Purwkarta, karena itulah rempah wangian yang ada, sedangkan suami saya mengajak saya munggah untuk mengunjungi keluarganya di daerah menteng hingga berziarah " nyekar " ke makam almarhum Bapak dan ibu Mertua di TPU Penggilingan, Jakarta Timur. Kemudian kami mengunjungi saudara saya dari pihak ibu dan Bapak. Alhamdulillah, tradisi adalah bagian budaya masyarakat sebagai kearifan lokal leluhur yang wajib dilestarikan karena punya makna tersendiri, jadi kalau rekan kompasiner bagaimana, tadisi apa yang dilakukan jelang ramdhan, marhaban ya ramadhan, semoga kelak bisa silaturrahim dan meet up dengan sesama kompasianer di bulan ramadhan, yuuuuk 


1 comments: