Sunday, January 3, 2016

Tahun Baru, Buku dan Biografi Agus Salim

Langit malam yang pekat, suara terompet bersahutan dimana-mana. Saya menepi dari riuhnya suasana tahun baru dan berada sekitar 25 kilometer dari ibukota Jakarta, Namun ternyata di kota ini juga tak kalah riuhnya, sepanjang sisi jalan dipenuhi penjualan terompet.

Langit penuh dengan aneka warna kembang api yang mengetuk pekat dan heningnya malam
Namun bedanya sholawat nabi juga terdengar riuh di masjid-masjid yang tak jauh dari rumah.

Tak berapa lama hujan mengguyur, dan saya merapikan kembali semua buku yang masih terpacking dalam dus-dus dan juga koper yang belum dibuka, harta saya yang paling berharga adalah koleksi Al qur’an dari hadiah kedutaan Quwait dan buku-buku yang saya beli dan kumpulkan selama 5 tahun saya di Jakarta

Tahun baru ini memenag begitu sederhana, saya berada di rumah inspirasi, satu rumah mungil di Kota depok. Menikmati suara rinai hujan yang syahdu sambil menghabiskan membaca majalah Tempo yang baru saya buka dari plastiknya, majalah ini ada dalam goody bag acara HUT RI yang ke 67, tentang Diplomat Senior Agus Salim" sungguh senang membacanya. ternyata agus salim semasa hidupnya menguasai 7 bahasa, sering pindah rumah dan sangat romantis pada istrinya. Hingga Presiden Soekarno pun sering mengunjunginya. dan jabatan terkahirnya sebagai menteri luar negeri ke 3 yang lahir dengan nama Mashudul Haq Mashudul Haq  ("pembela kebenaran"); lahir di kota Gadang,  Sumatera Barat pada tanggal pada 8 oktober 1884 dan meninggal di jakarta pada tanggal 4 November 1954 pada umur 70 tahun.


Beliau juga pernah menempuh pendidikan di sekolah khusus anak-anak Eropa di Europeesche Lagere School (ELS) yang kemudian berlanjut di Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Beliau juga berperan sebagai salah satu anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945. Karena kepiawaian beliau dalam hubungan internasional, beliau dipercaya sebagai menteri muda luar negeri kabinet Sjahrir II dan III, serta menjabat sebagai menteri luar negeri pada kabinet Amir Sjarifuddin dan Hatta.

Pada tahun 1952, Haji Agus Salim menjabat sebagai Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Hal tersebut menjadi penutup karirnya di dunia kancah politik. Beliau beralih menghabiskan masa tuanya sebagai penulis buku. Buku yang telah terbit dari tangannya berjudul "Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid Harus Dipahamkan". Buku tersebut kemudian diperbaiki menjadi "Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal".
Buku yang telah beliau tulis juga merupakan buah karya dari pengalamannya sebagai jurnalis pada masa mudanya. Agus Salim muda merintis karir sebagai Redaktur II di Harian Neratja yang kemudian diangkat menjadi Ketua Redaktur. Tidak berhenti disana, beliau juga menjadi pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta, dan kemudian mendirikan Suratkabar Fadjar Asia. Di tengah-tengah karir beliau di dunia jurnalistik, beliau menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak.


0 comments:

Post a Comment