Friday, December 27, 2013

Dibalik cerita Sang Guru Bangsa, Anies Baswedan “ Be Optimistic with This Republic”



Dibalik cerita Sang Guru, Anies Baswedan
“ Be Optimistic with This Republic”

            Be optimistic with this republic” tulisan tangan tersebut tertulis rapi di halaman depan buku “ Korupsi Mengorupsi Indonesia, yang diadakan pada tanggal 12 Januari 2010  bertempat di gedung Financial Grup, Buku anti korupsi ini merupakan inisiatif positif dari kalangan profesional dan akademisi untuk mendukung usaha pemerintah dalam pemberantasan korupsi, acara launching buku tersebut dihadiri para tokoh diantaranya Mantan preside RI, Bapak Jusuf Kalla, Sandiaga Uno, Denny Indrayana, Dewi Motik dan tokoh lainnya.
            Mengapa tulisan tersebut mengandung arti optimisme untuk republik Indonesia tercinta?Apakah sudah banyak yang ragu dnegan Indonesia? Mungkin karena korupsi merajalela, pengangguran semakin tinggi, banyak masyarakat putus sekolah dan kriminalitas semakin tinggi, sehingga optimisme, harpan dan impian hilang, Indonesia redup, gelap dan suram. Mungkin hal inilah yang tersirat di balik tulisan tersebut, dan tulisan tangan tersebut adalah Tulisan Bapak Anies Baswedan di buku setebal  1117 halaman tersebut di tulis oleh Ridwan Zachrie dan Wijayanto dengan  Penerbit Gramedia Pustaka Utama yang berasal dari bunga rampai atau kumpulan tulisan mengenai korupsi dan ulasan komprehensif dari para pakar dan pejuang antikorupsi tentang berbagai aspek korupsi di Indonesia yang merupakan akumulasi pengetahuan dan pengalaman 30-an pakar dari berbagai bidang yang berasal dari berbagai negara itu menjadi buku yang bersejarah yang menyambut saya di Jakarta dengan warna cover putih dengan tulisan merah yang kontras,  buku dengan simbolis  warna nasionalismenya yang  sangat kuat seolah mengirim pesan Indonesia free from corruption !
            Dalam acara tersebut Pak Anies memberikan kata sambutan dalam acara diskusi dan peluncuran buku tersebut. Menurut beliau korupsi bagaikan virus yang menggerogoti bangsa dan membahayakan karena roda bernegara bisa lumpuh total, dan korupsi bukan hanya dalam ranag mengambil uang rakyat namun wajah korupsi juga bisa berbentuk kebijakan yang merugikana masyarakat dan abnagsa karena tidak arif dalam mengambil langkah dan keputusan yang seyogyanya bertujuan untuk kemaslahatan orang banyak.
           
Mendengar ulasan tersebut ada entry point yang saya dapatkan yakni menengarai suatu persoalan dengan memperbaiki sistem, jadi dengan mencari solusi permasalahan korupsi maka pembangunan akan berjalan legbih baik kedepan, tentu saja dengan memperbaiki sistem dan hukum yang jelas maka good governance akan terwujud dengan adanya transfaransi, hal yang sangat mendasar namun dibutuhkan bangsa ini.
            Waktu berlalu, saya harus menjalani lagi seleksi wawancara, saya satu-satunya calon mahasiswa yang berasal dari luar Pulau Jawa waktu itu hanya berdoa semoga semua berjalan lancar, karena mengejar penerbangan sore, dengan harga tiket yang lumayan mahakl waktu itu, bisa kacau kalau saya ketinggalan pesawat namun saya merasa senang waktu itu karena  bertemu dengan banyak rekan-rekan seperjuangan, kandidat mahasisswa S2 Paramadina.  Mereka memang sosok-sosok pilihan, kebanyakan diantara kami adalah aktifis di dunia jurnalistik dan LSM,  pada  pertemuan yang singkat menunggu giliran wawancara dengan kegugupan tingkat tinggi kami berbagi cerita, tawa, inspirasi dan semangat di lobby kampus di  gedung Energy Building lantai 22 itu, kami  sedikit nervous diwawancarai para  master dan doktor lulusan Amerika, dan masih tersimpan di memori kenangan yang begitu indah dan tidak bisa terlupakan, kelak cerita bergulir karena diantara masing-masing kami sibuk berjuang menuju mimpi-mimpi jiwa muda ditengah tugas kuliah yang menumpuk.

Kelas Perdana,  Sang Rektor Datang, semua senang

            Saya tak pernah menduga sebelumnya sosok itu kelak akan menjadi Rektor saya di  kampus S2 Universitas Paramadina, karena kedatangan saya ke Jakarta akhirnya berbuah manis dan resmi menjadi mahasiswa S2 Hubungan Internasional jurusan Diplomasi Program fellowship yang disponsori oleh Medco foundation. Saya begitu semangat dan duduk paling depan, disamping saya adalah Pak Makarim Wibisono yang kelak menjadi dosen saya, beliau adalah former ambassador untuk PBB dan Chairman ASEAN Foundation, saya sempat bercakap-cakap dengan beliau dan mengatakan ketertarikan saya dengan ilmu diplomasi ekonomi, beliau memberi motivasi untuk tekun belajar.
            Dan dihadapan saya hadir seorang sosok yang pernah saya lihat pada acara launching buku Korupsi Mengorupsi Indonesia, beliaulah Anies Rasyid Baswedan, dalam acara kuliah umum perdana seluruh mahasiswa S2 yang terdiri dari Mahasiswa Jurusan Komunikasi Politik, Komunikasi Perusahaan, Manajemen Strategik, Ekonomi Syariah dan Hubungan Internasional, beliau berbicara di podium dan menyampaikan  ucapan selamat dengan penuh suka cita dan memberikan kata sambutan dengan analogis yang menarik, sehingga kesan pertama melihat beliau adalah seorang sosok yang visioner dan optimistis, dua kata tersebut terus terbukti dalam berbagai kelas yang saya ikuti bersama beliau mulai dari kelas mata kuliah Diplomasi, ASEAN, dan mata kuliah lainnya, Beliau selalu mencoba membangun interaksi dengan mahasiswa agar mau mengutarakan pendapat sehingga membangun cakrawala berpikir. Uniknya daya ingat beliau cukup tinggi, saat itu beliau bertanya “ anda dari mana?” mungkin karena mendengar dialek saya yang terdengar agak berbeda. Saya tersenyum dan mengatakan “ saya  dari Medan Pak “,  jawab saya singkat. “oh mendengar Medan saya selalu teringat semangatnya kata beliau,
            Memang menurut biografi tentang beliau yang saya baca Pak Anies adalah seorang anak yang aktif dan kritis, dari  sejak sekolah SD hingga kuliah. Beliau juga pernah terpilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar AFS di Amerika, sehingga jiwa leadership dan nasionalisme beliau tertempa utuh. Daya ingatnya juga cukup tinggi, itu terbukti saat saya menghadiri seminar ASEAN dimana Bapak Mentri Luar Negeri Marty Natalegawa hadir sebagai pembicara dan saya memberanikan diri untuk bertanya tentang dinamika ASEAN dalm konteks people to people contact,  dan ternyata Pak Anies masih mengingat saya dan saat di mata kuliah ASEAN berikutnya dia berkata,  Anda  yang bertanya kemarin acara seminar ASEAN bukan, pertanyaan yang bagus?  Apresiasi beliau di kelas,  dan Begitulah Pak Anies sosok guru bagi saya yang memang terlahir dari pasangan orangtua guru yang bergerak di ranah pendidikan

Satu kata untuk Pak  Anies, setelah setahun berlalu, Inspiratif

            Saya ingat sekali saat mengikuti kuliah umum dan mendengarkan kata sambutan beliau soal pendidikan. “Pendidikan itu adalah eskalator ynag mampu menganggkat seseorang menuju  tangga berikutnya” begitu kira-kira kata-kata yang masih saya ingat dan membekas dalam. Dan filosofis tersebut jualah yang menghantarkan saya meninggalkan kampung halaman dan menuntut ilmu di ibukota dan berdamai dengan macetnya Jakarta, sejenak meningggalkan hening menuju kota yang riuh.
            Setelah selesai mata kuliah Diplomasi dan ASEAN, saya bersama rekan mahasiswa yang lain biasanya ngobrol dengan beliau di lobby, dan disana kami berbicara ide tentang Indonesia Mengajar, dan saat itu saya begitu tertarik dan bercerita bahwa almarhum Bapak saya juga pernah menjadi pejuang literasi  untuk mengajari anak  dan orang tua baca tulis di sebuah pedesaan di pulau Nias dan itu menjadi inspirasi bagi saya dan obrolan kami ternyata tak berhenti disitu, tak lebih dari dua bulan pak Anies akhirnya mewujudkan “ Indonesia  Mengajar”  hingga program-program Kelas Inspirasi menyita banyak minta relawan untuk mendaftar dan yang menarik program kelas Inspirasi kedua yang serentak dilaksanakan di seluruh sekolah di Indonesia diadakan pada tanggal 25 April 2012 yang bertepatan hari ulang tahun saya,  namun sayang sekali tak bisa saya hadiri berhubung ada tugas
            Pak Anies Baswedan berhasil mewujudkan insiatif sederhana dengan mengajar pada sekolah-sekolah SD di seluruh Indonesia, namun memberi pengaruh besar pada sebuah perubahan yakni “ kesadaran” kepada semua pihak, baik masayarakat, swasta dan pemerintah bahwa pendidikan adalah hak semua rakyata Indonesia dan setiap kita bisa mengambil peran di dalamnya baik dalam porsi kecil maupun besar sesuai dengan kapasitas masing-masing. 
            Bahkan “ kesadaran” yanng saya terjemahkan  abstarak bagaikan Early Warning System (Sistem Detreksi Dini), dengan pengertian akumulasi kebodohan akan berkorelasi dengan kemiskinan, untuk itu perlu memberikan harapan kepada anak-anak indonesia untuk terus belajar dan bersekolah dan meningkatkan pendidikan mereka, karena penduduk Indonesia dengan populasi 250 juta merupakan aset bangsa jika memiliki SDM yang berkualiatas yang berpotensi dengan 60 % usia produktif yang kelak menjadi leader di masa depan.
            Pertemuan berikutnya dengan Pak Anies Baswedan pada bulan Pebruari 2013 di Bandung bertempat di Gedung Indonesia Menggugat dalam acara Indonesia Youth Changemaker, saat itu  beliau hadir sebagai pembicara, dan seperti biasa memberi aura tentang emangat pemuda yang harus mampu berpikir melampaui zamannya seperti founding father, Soekarno dan sebagainya. Beliau mengatakan Pendidikan adalah eskalator kehidupan untuk naik tangga berikutnya, dan hal ini terbukti nyata  saat  banyak orangtua di pedesaan yang berjuang untuk menyekolahkan anaknya hingga menjual sawah dan kerbau  bisa sekolah ke jenjang berikutnya,yang penting. Begitu juga dengan masyarakat di perkotaan juga menyekolahkan anaknya  di sekolah perkotaan yang berstandar internasional, bahkan hingga ke luar negeri agar anaknya sukses kelak, yang menarik dari sosok Anies Baswedan saat menginspirasi dengan berkarya untuk anak bangsa, beliau juga sering menjadi pembicara dalam berbagai forum muda dan pernah terpilih menjadi satu diantara 100 tokoh yang Intelektual Publik Dunia. Anies Baswedan  merupakan satu-satunya orang Indonesia yang masuk pada daftar hasil rilis majalah tersebut. Dalam daftar itu nama Anies sejajar dengan tokoh dunia seperti Noam Chomsky (tokoh perdamaian), para penerima nobel seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen.

            Salah satu ungkapan beliau yang menarik dari beliau adalah tentang janji kemerdekaan untuk  memberi perlindungan bagi setiap warga negara. Menurut beliau Republik ini dirancang untuk melindungi setiap warga negara. Beliau mengilustrasikan Republik ini sebagai sebuah tenun kebangsaan yang dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik. Kekerasan atas nama apapun akan merusak tenun tersebut. Dalam soal perlindungan terhadap warga negara atas kekerasan yang kerap terjadi menurut Anies Baswedan harus dilihat sebagai warga negara menyerang warga negara lainnya, terjadi bukan soal mayoritas lawan mayoritas. Negara memang tidak bisa mengatur perasaan, pikiran, ataupun keyakinan warga negaranya. Namun menurut negara sangat bisa mengatur cara mengekspresikannya. Dialog antar pemikiran setajam apapun boleh, namun begitu berubah jadi kekerasan maka pelakunya berhadapan dengan negara dan hukum,, ilustrasi tenun tersebut begitu indah dan artistic, mungkin karena semasa kecil beliau tinggal dan sekolah di Jogjakarta sehingga jiwa seni, estetika dan pemikiran menghadirkan originalitas ide beliau yang sederhana namun menarik dan mengusik setiap orang untuk merenung dan berpikir.

Pikir Itu Pelita Hati, dan Pelita itu menjadi Indonesia Menyala
           Membangun Indonesia memang harus dimulai dengan langkah sederhana  yang klonkrit namun memberi terang setelah kegelapan, setelah menyiapkan program pengajar muda, yang dibutuhkan selalnjutnya adalah infrastruktur yakni  membangun  perpustakaan-perpustakaan yang bertempat di wilayah penempatan Pengajar Muda. Perpustakaan Indonesia Menyala terdiri dari dua bentuk yakni perpustakaan tetap dan perpustakaan berputar. Perpustaakaan tersebut berisi buku-buku yang dikumpulkan oleh para relawan dan pengajar muda  yang diluncurkan pada 15 April 2011. Hal ini merupakan pemikiran pengajar muda yang melihat kebutuhan akan bahan bacaan yang bermutu  sehingga buku pun dapat di akses dan sebar di masyarakat melalui perpustakaan tetap dan perpustakaan berputar. Uniknya,  perpustakaan berputar, berbentuk sebuah tas yang dibawa keliling oleh Pengajar Muda untuk dibaca oleh masyarakat sekitar. Dan sekali lagi terbukti Indonesia Menyala  akhirnya membuka akses terhadap bacaan yang terbatas pada masyarakat masyarakat pedesaan di Indonesia, sehingga pendidikan adalah hak masyarakat Indonesia.
            Regenarasi ide  menjadi  mengalir dengan sendirinya karena program Indonesia Menyala adalah regeneras dari Ide Indonesia mengajar, begitulah simpul yang terikat dan menjadi kuat dibalik sosok yang memberikan pengaruh pada masyarakat sehingga dengan sendrinya masyarakat dan anak-anak muda, swasta dan pemerintah tergerak bekerjasama dan menginisiasi dan mereproduksi ide yang sama seperti UI mengajar dan sebagainya, dan anies Baswedan tentu tidak pernah menyangka bahwa program tersebut menggerakkkan jiwa yang diam menjadi bergairah dan hangat untuk menerobos batas dan melampaui mimpi suatu generasi, dan data terakhir seleksi Indonesia mengajar selalu ditunggu anak-anak muda Indonesia yang cerdas, berprestasi dan kreatif, sudah ada enam angkatan dan menunggu angkatan ketujuh biasanya yang diterima hanya tujuh puluhan pengajar yang berhasil diseleksi dari ribuan berkas, sungguh prestasi yang sangat terpuji karena sudah berjalan berkelanjuttan dnegan kualitas pengajar yang teruji mental, nasionalisme dan ilmunya untuk berbagi dengan masyarakat di pelosok, di pulau-pulau Indonesia, dan kelak senyum anak bangsa akan semakin cerah karena semua menjadi equal , dan pembedanya adalah kemauan untuk selalu menjaga nyala di jiwa, sebagai “ pelita” yang kelak akan bersinar, dan obor pelita tersebut bisa saja dibawa oleh anak-anak bangsa di pelosok yang terinfirasi membangun negeri, karena kepedulian selalu beradsal dari ketulusan.

Anies Baswedan For RI 1?

Apakah anies baswedan siap menjadi presiden Republik Indonesia,mari kit abaca dari surat beliau di bawah ini, karena saya tidak bisa menafsirkan sendiri, inilah surat beliau dan surat ini bernada sama dalam buku yang saya baca  Surat dari dan untuk Pemimpin” terbitan Tempo Institute yang berisi himpunan surat dari birokrat, jurnalis, pengusaha, CEO, rohaniwan, seniman, artis, aktivis pengembangan masyarakat, tokoh penegakan hukum, dan penulis kepada semua pemuda dan calon pemimpin bangsa, inilah surat Pak Anies Baswedan, silahkan dibaca dan direnungkan

Saya menulis surat ini terkait dengan perkembangan baru yang datangnya amat cepat dan saya merasa perlu untuk mengirimkan surat ini secara pribadi. Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk turut konvensi. Saya diundang bukan untuk jadi pengurus partai, tetapi untuk diseleksi dan dicalonkan dalam pemilihan presiden tahun depan. Saya semakin renungkan tentang bangsa kita, tentang negeri ini.

Pilih turun tangan, ikut bertanggung jawab.
Para pendiri Republik ini adalah kaum terdidik yang tercerahkan, berintegritas, dan berkesempatan hidup nyaman tapi mereka pilih untuk berjuang. Mereka berjuang dengan menjunjung tinggi harga diri, sebagai politisi yang negarawan. Karena itu mereka jadi keteladanan yang menggerakkan, membuat semua siap turun tangan. Republik ini didirikan dan dipertahankan lewat gotong royong. Semua iuran untuk republik: iuran nyawa, tenaga, darah, harta dan segalanya. Mereka berjuang dengan cara terhormat karena itu mereka dapat kehormatan dalam catatan sejarah bangsa ini.

Kini makna “politik” dan “politisi” terdegradasi, bahkan sering menjadi bahan cemoohan. Tetapi di wilayah politik itulah berbagai urusan yang menyangkut negara dan bangsa ini diputuskan. Soal pangan, kesehatan, pertanian, pendidikan, perumahan, kesejahteraan dan sederet urusan rakyat lainnya yang diputuskan oleh negara. Amat banyak urusan yang kita titipkan pada negara untuk diputuskan.

Di tahun 2005, APBN kita baru sekitar 500-an triliun dan di tahun ini sudah lebih dari 1600 triliun. APBN kita lompat lebih dari tiga kali lipat dalam waktu kurang dari delapan tahun.Kemana uang iuran kita semua digunakan? Di tahun-tahun kedepan, negara ini akan mengelola uang iuran kita yang luar biasa banyaknya. Jika kita semua hanya bersedia jadi pembayar pajak yang baik, lalu siapa yang jadi pengambil keputusan atas iuran kita?
Begitu banyak urusan yang dibiayai atas IURAN kita dan atas NAMA kita semua. Ya, suka atau tidak, semua tindakan negara adalah atas nama kita semua, seluruh bangsa Indonesia. Haruskah kita semua membiarkan, hanya lipat tangan dan cuma urun angan?

Di negeri ini, lembaga dengan tata kelola yang baik dan taat pada prinsip good governancemasih amat minoritas. Mari kita lihat dengan jujur di sekeliling kita. Terlalu banyak lembaga, institusi dan individu yang masih amat mudah melanggar etika dan hukum semudah melanggar rambu-rambu lalu lintas. Haruskah kita menunggu semua lembaga itu beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Jika saya tidak diundang maka saya terbebas dari tanggung-jawab untuk memilih. Tapi kenyataannya saya diundang walau tidak pernah mendaftar apalagi mengajukan diri. Dan saya menghargai Partai Demokrat karena faktanya partai ini jadi satu-satunya yang mengundang warga negara, warga non partisan. Di satu sisi, Partai Demokrat memang sedang banyak masalah dan persepsi publik juga amat rendah. Di sisi lain konvensi yang dilakukan oleh Partai Demokrat adalah mekanisme baik yang seharusnya juga ada di semua partai agar calon presiden ditentukan oleh rakyat juga.

Saya pilih untuk ikut mendorong tradisi konvensi agar partai jangan sekedar menjadi kendaraan bagi kepentingan elit partai yang sempit. Kini semua harus memperjuangkan agar konvensi yang dilaksanakan oleh Partai Demokrat ini akan terbuka, fair dan bisa diawasi publik. Saya percaya bahwa penyimpangan pada konvensi sama dengan pengurasan atas kepercayaan yang sedang menipis.

Undangan ini untuk ikut mengurusi negara yang kini sedang dihantam deretan masalah, yang hulunya adalah masalah integritas dan kepercayaan. Haruskah saya jawab, “mohon maaf saya tidak mau ikut mengurusi karena saya ingin semua bersih dulu, saya takut ini cuma akal-akalan. Saya ingin jaga citra, saya ingin jauh dari kontroversi, saya enggan dicurigai dan bisa tak populer?” Bukankah kita lelah lihat sikap tidak otentik, yang sekedar ingin populer tanpa memikirkan elemen tanggungjawab? Haruskah saya menghindar dan cari aman saja? Saya sungguh renungkan ini semua.

Saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agutus 2013 adalah hari-hari dimana saya harus ambil keputusan. Saat itu saya menghadiri upacara di Istana Merdeka, bukan karena saya pribadi diundang, tetapi undangan ditujukan pada ahli waris AR Baswedan, kakek kami, dan kami yang berada di Jakarta. Jadi saya dan istri hadir mewakili keluarga.

Seperti biasa bendera merah putih itu dinaikkan dengan khidmat diiringi gelora Indonesia Raya. Dahulu bendera itu naik lewat jutaan orang iuran nyawa, darah dan tenaga hingga akhirnya tegak berkibar untuk pertama kalinya. Menyaksikan bendera itu bergerak ke puncak dan berkibar dengan gagah, dada ini bergetar.

Sepanjang bendera itu dinaikkan, ingatan saya tertuju pada Alm. AR Baswedan dan para perintis kemerdekaan lainnya. Mereka hibahkan hidupnya untuk memperjuangkan agar Republik ini berdiri. Mereka berjuang “menaikkan” Sang Merah-Putih selama berpuluh tahun bukan sekedar dalam hitungan menit seperti saat upacara kini. Mereka tak pilih jalur nyaman dan aman. Mereka juga masih muda, namun tidak ada kata terlalu muda untuk turun tangan bagi bangsa. Berpikir ada yang terlalu muda, hanya akan membawa kita berpikir ada yang terlalu tua untuk turun tangan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai bangsanya, melebihi cintanya pada dirinya.

Suatu ketika saya menerima sms dari salah satu putri Proklamator kita. Ia meneruskansms berisi Sila-Sila dalam Pancasila yang dipelesetkan misalnya “Ketuhanan Yang Maha Esa” diubah jadi “keuangan yang maha kuasa” dan seterusnya. Lalu ia tuliskan, “Bung Anies, apa sudah separah ini bangsa kita? Kasihan kakekmu dan kasihan ayahku. Yang telah berjuang tanpa memikirkan diri sendiri, akan ‘gain’ apa.”

Kini, saat ditawarkan untuk ikut mengurusi negara maka haruskah saya tolak? sambilberkata, mohon maaf saya ingin di zona nyaman, saya ingin terus di jalur aman ditemani tepuk tangan? Haruskah sederetan peminat kursi presiden yang sudah menggelontorkan rupiah amat besar itu dibiarkan melenggang begitu saja? Sementara kita lihat tanda-tanda yang terang benderang, di sana-sini ada saja yang menguras uang negara jadi uang keluarga, jadi uang partai, atau jadi uang kelompoknya di saat terlalu banyak anak-anak bangsa yang tidak bisa melanjutkan sekolah, sebuah “jembatan” menuju kemandirian dan kesejahteraan. Pantaskah saya berkata pada orang tua, pada kakek-nenek kita, bahwa kita tidak mau ikut berproses untuk mengurus negara karena partai belum bersih? Haruskah kita menunggu semua partai beres dan “bersih” baru ikut turun tangan?

Saya pilih ikut ambil tanggung jawab tidak cuma jadi penonton. Bagi saya pilihannya jelas,mengutuk kegelapan ini atau ikut menyalakan lilin, menyalakan cahaya. Lipat tangan atau turun tangan. Saya pilih yang kedua, saya pilih menyalakan cahaya. Saya pilih turun tangan. Di tengah deretan masalah dan goncangan yang mengempiskan optimisme, kita harus pilih untuk terus hadir mendorong optimisme. Mendorong muncul dan terangnya harapan. Ya, mungkin akan dicurigai, bisa tidak populer bahkan bisa dikecam, karena di jalur ini kita sering menyaksikan keserakahan dengan mengatasnamakan rakyat.

Tapi sekali lagi ini soal rasa tanggung-jawab atas Indonesia kita. Ini bukan soal hitung-hitungan untung-rugi, bukan soal kalkulasi rute untuk menjangkau kursi, dan bukan soal siapa diuntungkan. Saya tidak mulai dengan bicara soal logistik atau pilih-pilih jalur, tetapi saya bicara soal potret bangsa kita dan soal tanggung-jawab kita. Tentang bagaimana semangat gerakan yang jadi pijar gelora untuk merdeka itu harus dinyalaterangkan lagi. Kita semua harus merasa turut memiliki atas masalah di bangsa ini.


Ini perjuangan, maka semua harus diusahakan, diperjuangkan bukan minta serba disiapkan. Tanggung-jawab kita adalah ikut berjuang -sekecil apapun- untuk memulihkan politik sebagai jalan untuk melakukan kebaikan, melakukan perubahan dan bukan sekedar mengejar kekuasaan. Kita harus lebih takut tentang pertanggungjawaban kita pada anak-cucu dan pada Tuhan soal pilihan kita hari ini: diam atau turun tangan. Para sejarawan kelak akan menulis soal pilihan ini.

Semangat ini melampaui urusan warna, bendera dan nama partai. Ini adalah semangat untuk ikut memastikan bahwa Republik ini adalah milik kita semua dan untuk kita semua, seperti kata Bung Karno saat pidato soal Pancasila 1 Juni 1945. Tugas kita kini adalah memastikan bahwa dimanapun anak bangsa dibesarkan, di perumahan nyaman, di kampung sesak-pengap tengah kota, atau di desa seterpencil apapun, ia punya peluang yang sama untuk merasakan kemakmuran, keterdidikan, kemandirian dan kebahagiaan sebagai anak Indonesia.

Saya tidak bawa cita-cita, saya mengemban misi. Cita-cita itu untuk diraih, misi itu untuk dilaksanakan. Semangat dan misi saya adalah ikut mengembalikan janji mulia pendirian Republik ini. Sekecil apapun itu, siap untuk terlibat demi melunasi tiap Janji Kemerdekaan. Janji yang dituliskan pada Pembukaan UUD 1945: melindungi, mencerdaskan, mensejahterakan dan jadi bagian dari dunia.

Kita semua sadar bahwa satu orang tidak bisa menyelesaikan seluruh masalah. Dan cara efektif untuk melanggengkan masalah adalah dengan kita semua hanya lipat tangan dan berharap ada satu orang terpilih jadi pemimpin lalu menyelesaikan seluruh masalah. Tantangan di negeri ini terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu orang, tantangan ini harus diselesaikan lewat kerja kolosal. Jika tiap kita pilih turun tangan, siap berbuat maka perubahan akan bergulir.

Apalagi negeri ini sedang berubah. Tengok kondisi keluarga kita masing-masing. Negara ini telah memberi kita amat banyak. Sudah banyak saudara sebangsa yang padanya janji kemerdekaan itu telah terlunasi: sudah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Tapi masih jauh lebih banyak saudara sebangsa yang pada mereka janji itu masih sebatas bacaan saat upacara, belum menjadi kenyataan hidup.

Di negeri ini masih ada terlalu banyak orang baik, masih amat besar kekuatan orang lurus di semua sektor. Saya temukan mereka saat berjalan ke berbagai tempat. Saat mendiskusikan undangan ini dengan anak-anak generasi baru Republik ini, saya bertemu dengan orang-orang baik yang pemberani, yang mencintai negerinya lebih dari cintanya pada citra dirinya, yang tak takut dikritik, dan selalu katakan siap turun tangan. Akankah kita yang sudah mendapatkan yang dijanjikan oleh Republik ini diam, tak mau tahu dan tak mau turun tangan? Pantaskah kita terus menerus melupakan -sambil tak minta maaf- pada saudara sebangsa yang masih jauh dari makmur dan terdidik?

Bersama teman segagasan, kami sedang membangun sebuah platformwww.turuntangan.org untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama. Ini bukan soal meraih kursi, ini soal kita turun tangan memastikan bahwa mereka yang kelak mengatasnamakan kita adalah orang-orang yang kesehariannya memperjuangkan perbaikan nasib kita, nasib seluruh bangsa.
Teman-teman juga punya pilihan yang sama. Lihat potret bangsa ini dan bisa pilih diam tak bergerak atau pilih untuk turut memiliki atas masalah lalu siap bergerak. Beranikan diri untuk bergerak, bangkitkan semangat untuk turun tangan, dan aktif gunakan hak untuk turut menentukan arah negara. Jalur ini bisa terjal dan penuh tantangan, bisa berhasil dan bisa gagal. Tapi nyali kita tidak ciut, dada kita penuh semangat karena kita telah luruskan niat, telah tegaskan sikap. Hari ini kita berkeringat tapi kelak butiran keringat itu jadi penumbuh rasa bangga pada anak-anak kita. Biar mereka bangga bahwa kita tidak tinggal diam dan tak ikut lakukan pembiaran, kita pilih turun tangan.

Saya mendiskusikan undangan ini dengan keluarga di rumah dan dengan Ibu dan Ayah di Jogja. Mereka mengikuti dari amat dekat urusan-urusan di negeri ini. Ayah menjawab, “Jalani dan hadapi. Hidup ini memang perjuangan, ada pertarungan dan ada risiko. Maju terus dan jalani dengan lurus.” Istri mengatakan, “yang penting tetap jaga nama baik, cuma itu yang kita punya buat anak-anak kita.” Ibu mengungkapkan ada rasa khawatir menyaksikan jalur ini tapi Ibu lalu katakan, “terus jalani dengan cara-cara benar. Saya titipkan anak saya ini bukan pada siapa-siapa, bukan kita yang akan jadi pelindungnya Anies. Saya titipkan anak saya pada Allah, biarkan Allah saja yang jadi pelindungnya.”
Itu jawaban mereka. Saya camkan amat dalam sambil berdoa, Insya Allah suatu saat saya bisa kembali ke mereka dan membuat mereka bersyukur bahwa kita ikut turun tangan, mau ikut ambil tanggung-jawab –sekecil apapun itu- untuk republik ini. Ini adalah sebuah jalur yang harus dijalani dengan ketulusan yaitu kesanggupan untuk tak terbang jika dipuji dan tak tumbang jika dikiritik. Bismillah, kita masuki proses ini dengan kepala tegak, Insya Allah terus jaga diri agar keluar dengan kepala tegak. Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah … bulatkan niat lalu berserah pada Sang Maha Kuasa.
Semoga Allah SWT selalu meridloi perjalanan di jalur baru dari perjalanan yang sama ini dan semoga semakin banyak yang menyatakan siap untuk turun tangan bagi Republik tercinta ini.

Terima kasih dan salam hangat,
Anies Baswedan
Jakarta 4 September 2013

            Komitmen itu dimulai dengan kata, dan mewujudkannya dengan menjalankan kata tersebut adalah tantangan seorang pemimpin, “finally we need the leader who walk the talk”  ketika integritas terjaga, komitmen dipenuhi , maka tiada keraguan untuk setiap anak bangsa untuk memimpin negeri ini.

           Sholawat mengalir merdu di Aula Nurkholis Madjid

            Alunan sholawat mengalir, sholatulloh, salamulloh ala yasin habibulloh, sholatulloh salamulloh ala yasin rosulillah

Beliau tampil menyampaikan kata sambutan dan membuka sidang wisuda tepat tanggla 13 April 2012, wisuda dengan tanggal yang sama saat saya berhasil meraih doble degree sebagai Sarjana Ekonomi dan Sarjana Pendidikan. Saya pun mendengar nama saya dan kedua orangtua saya disebut, dihadapan saya seorang rektor tersenyum didampingi dekan S2 Universitas Paramadina, Saya meyalam beliau dengan takzim sesaat meletakkan tali topi toga saya kekiri, rasanya bahagia sekali.
            Selepas acara wisuda beliau membaur dengan keluarga wisudawan S2 termasuk saya, dan kata pertama yang saya dengar adalah “ congratulation, finally you got itm So what next”?
Saya tahu betul  dari membaca biografinya, beliau pernah menjadi tim riset otonomi daerah dan saya sempat berdikusi saat kuliah dulu.
“ selanjutnya di senayan pak, mengkaji otonomi daerah kita” jawab saya
“ semangat dan sukses selalu” katamya dengan optimis dan senyum yang karismatik

Dan jpret, saya adalah wisudawan yang beruntung meski tak meraih nilai cum laude namun Ibu, adik dan beserta paman saya mengabadikan momen bersama beliau di altar, kelak akan jadi foto sejarahm apakah beliau akan menjadi leader di negeri ini?
Namun satu yang tersirat di hati. Inilah ungkapan hati saya untuk sang guru bangsa, semoga kita selalu berdampingan merawat Indonesia.

Inilah suratku untukmu Pak Rektorku dan semoga kelak jadi mentorku..

  Pak Anies, sebagai mahasiswa yang pernah engkau didik,  saya sangat simpati dan mengapresiasi langkah perjuanganmu, menggags ide, mengimplementasikan dan mengajak dengan tindakan adalah bagian dari ketauladanan, dan seorang pemimpin sejatinyaterpilih karena keteladanan yang dia berikan, danmendengar banyak suara yang tidak disuarakan, karena yang ada adalah kepekaan memandang kehidupan anak bangsa untuk mencapai kesejahteraan, keadilan dan masyarakat yang berdab dan mandiri.

Melunasi janji adalah bagian dari gentlemennya seorang pemimpin, saya belum pernah mendengar pernyataan tersebut, kecuali dari Bapak, semoga janji terbayar, dan kelak saya akan hadiahkan buku sederhana yang saya tuliskan salam kumpulan narasi dan puisi dan berikan untuk Bapak berjudul “ lelaki yang menenun Janji, saya akan terus belajar mengikuti jejak bapak, semoga tetap arif dan bijaksana dalam langkah

 Dan saya yakin dan percaya seorang leader adalah seorang influencer, seorang leader tidak akan menciptakan follower tapi seorang leader akan menciptakan leader, dan begitu banyak calon leader masa depan Indonesia di berbagai bidang yang telah engkau motivasi, inspirasi dan didik, welcome and congrat my leader ! Menjadi RI 1 di negeri ini atau bukan engkau telah menjadi bagian inspirasi anak negeri, dan sejarah akan mengenang semua kontribusi pemikiran yang engkau berikan dan kelak saya akan berkata pada anak cucu saya, Here he is Mr, Anies Baswedan, leader of the top leader”salam anak didikmu, Edrida Boru Pulungan



0 comments:

Post a Comment